Imam Khomeini dan Revolusi Islam
Roger Garoudy, cendekiawan besar Prancis: "Revolusi Islam Iran mengenalkan model baru bagi kesempurnaan manusia dan masyarakat. Model ini sejalan dengan kejiwaan bangsa-bangsa dunia, dan inilah alasan permusuhan Barat dengan revolusi ini."
Tergoncangnya sendi-sendi kekuasaan pemikiran ateisme dan materialisme di dunia modern dan mengalirnya pengaruhnya revolusi Islam yang digulirkan Imam Khomeini mendorong para tokoh dan pemikir dunia untuk berkomentar tentang fenomena besar ini, baik figur sang pemimpin maupun revolusi yang dipimpinnya. (Baca Juga: Karakter Imam Khomeini ra Menurut Ayatullah Khamenei )
Tak diragukan bahwa Imam Khomeini memiliki peran yang sangat besar dalam melahirkan revolusi agung di Iran, negara yang selama puluhan tahun tenggelam dalam penindasan rezim despotik. Sementara revolusi itu sendiri memiliki makna yang khas karena dipimpin oleh seorang figur ulama kharismatik yang pemberani. Hal itu menyadarkan umat manusia bahwa insan modern tidak dapat menerima kezaliman dan ketidakadilan. Kemampuan melawan kezaliman dapat diperoleh berkatbantuan ilahi.
Tak sedikit tokoh dan pemikir yang meyakini bahwa revolusi Islam Iran yang dipimpin Imam Khomeini membuka lembaran baru bagi sejarah dunia Islam bahkan dunia spiritual secara umum. Mereka percaya bahwa seruan suci yang disampaikan Imam Khomeini berhasil mengguncang dunia. Pemikiran dan perilakunya, Imam mengenalkan Islam kepada dunia. Pengaruh gerakan revolusi Imam Khomeini dirasakan juga di daratan Eropa.
Revolusi Islam Iran diyakini telah menumbuhkan semangat spiritual dan keagamaan di dunia. Gereja menemukan spirit baru, dan kehidupan keagamaan kembali bergairah di Eropa. Jutaan pengikut Kristen menantikan kedatangan kembali Yesus. Pengaruh revolusi ini tidak terbatasi pada wilayah Iran. Umat Islam bahkan di wilayah Asia selatan dan Afrika hingga Balkan dan Kaukasus diterpa oleh pengaruhnya pula.
Berikut ini adalah pernyataan dan komentar para tokoh dan pemimpin dunia tentang Imam Khomeini dan revolusi Islam Iran: (Baca Juga: Imam Khomeini Menurut Rahbar: Usulan yang Menyenangkan Imam Khomeini ra )
Presiden Kuba Fidel Castro:
"Revolusi Islam di Iran adalah peristiwa yang luar biasa. Pengorbanan dan keberanian Anda sangat menakjubkan. Kalian telah memberikan pelajaran baik kepada kami tentang pengorbanan, keberanian, … Pandangan kalian tentang Islam telah terekspor ke kawasan kami. Kalian telah mengekspor revolusi ke seluruh dunia. Iran dengan tenaga agamawan dan rakyatnya memiliki kemampuan yang besar dalam menghadapi semua tipu daya."
Mohammad Hasnein Heykal, Penulis Terkenal Arab:
"Seakan satu figur besar penuh pengalaman di era awal Islam terlahir lagi ke dunia dengan mukjizat. Figur yang memimpin pasukan Ali setelah kelompok Umawi membantai Ahlul Bait."
Abdollah Widat, Pemimpin Pemuda Muslim Afrika Selatan:
"Imam Khomeini bukan hanya milik kalian. Semua bangsa tertindas di selatan Afrika akan tergetar hatinya ketika mendengar nama beliau. Dunia hendaknya tahu bahwa Imam Khomeini adalah tumpuan harapan bagi seluruh bangsa tertindas di dunia."
Roger Garoudy, cendekiawan besar Prancis:
"Revolusi Islam Iran mengenalkan model baru bagi kesempurnaan manusia dan masyarakat. Model ini sejalan dengan kejiwaan bangsa-bangsa dunia, dan inilah alasan permusuhan Barat dengan revolusi ini."
"Ayatolah Khomeini memberikan makna kepada kehidupan bangsa Iran."
Mufti Al-Azhar:
"Imam Khomeini adalah sosok muslim sejati. Beliau adalah saudara muslim kami. Muslim meski berbeda madzhab adalah saudara bagi muslim yang lain. Mereka akan bergerak bersama Imam Khomeini di bawah panji Islam yang satu."
Uskup Kapuchi, Uskup Beitul Maqdis:
"Hati bangsa-bangsa yang mendamba kebebasan dan mereka yang tertindas bergetar karena Imam Khomeini. Beliau bukan hanya milik bangsa Iran tetapi milik semua bangsa tertindas, muslim atau bukan muslim. Beliau adalah pemimpin penyelamat."
Dr. Mohammad Ali, dosen Universitas Jibvala Meksiko:
"Imam Khomeini menunjukkan bahwa negara-negara adi daya bukan pemilik dunia. Alternatif yang lebih baik dari mereka adalah Islam."
Promakov, cendekiawan kenamaan Rusia:
"Ayatollah Khomeini telah mengubah makna kepemimpinan dalam tatanan kehidupan sosial. Dia meruntuhkan dinding rasa takut dan menggiring rakyat ke arah fitrah ketuhanan."
"Revolusi Islam di seluruh dunia selalu lekat dengan nama Khomeini. Sebab dialah yang memimpin rakyat Iran melahirkan revolusi besar dunia. Seperti layaknya para nabi, dia dengan kehadirannya, agama, politik, revolusi, Tuhan dan rakyat diikat dalam satu ikatan yang terpisahkan lalu mengenalkannya kepada insan pemikir. Kebangkitannya mengingatkan semua orang akan kebangkitan para nabi utusan Tuhan."
"Slogannya yang terkenal, 'tidak timur, tidak barat' telah menjadi pondasi utama berdirinya pemerintahan Islam dan itu terjadi tanpa dapat dicegah oleh adi daya dunia."
Kalim Siddiqi, Ketua Parlemen Muslim Inggris saat itu:
"Imam Khomeini adalah contoh satu-satunya figur pejuang Islam dalam menghadapi hegemoni politik, ekonomi dan budaya Barat."
Robin Wood:
"Dia (Imam Khomeini) adalah messiah masa kini. Dia benar-benar pancaran keteguhan Isa."
Oriana Fallaci, Penulis dan Jurnalis Kenamaan Italia:
"Pengaruh besar dari kewibawaan, kebesaran, kesabaran dan keagungan Ayatollah Khomeini sangat terasa dalam pertemuan pertama dengannya."
Abdur Razzaq Ahmad, Deputi Menteru Tenaga Kerja Ethiopia;
"Revolusi Iran pimpinan Imam Khomeini adalah titik awal bagi lahirnya identitas Islam dalam bentuk negara-negara Islam. Sebab, Islam tanpa pemerintahan yang tidak mampu menerapkan hukum syariat, tidak lebih baik dari agama Kristen. Ini adalah titik awal dan poin yang menonjol dari revolusi Imam Khomeini."
"Di pentas internasional, peran Imam Khomeini tidak kecil. Beliau telah menyadarkan umat Islam pada umumnya, khususnya warga Afrika, juga memberi spirit kepada bangsa Palestina untuk berjuang demi kebebasan melawan kaum zionis. Ini adalah contoh dari pengaruh itu."
Profesor Hamid Mavlana, dosen dan direktur pusat penelitian di Amerika Serikat:
"Imam Khomeini adalah sosok figur yang dapat menyihir rakyat dengan kata-katanya. Beliau berbicara dengan bahasa awam, dan memberikan semangat dan rasa percaya diri kepada kaum lemah dan fakir. Imam Khomeini meyakinkan mereka untuk menyingkirkan siapa saja yang menghalangi gerak maju mereka. Bahkan tidak perlu gentar menghadapi negara adi daya seperti AS. Menurut saya, di abad 20 Masehi tidak ada suara yang lebih jelas daru suara Imam Khomeini yang mampu mengguncangkan dunia. Setelah perang dunia kedua, Imam adalah sosok pemimpin pertama yang memecah kebungkaman dalam menghadapi taghut dan tirani. Jika kebungkaman ini tidak dipecah, saat ini Uni Soviet masih eksis."
Michael Gorbachev, Presiden Terakhir Uni Soviet:
"Dia (Imam Khomeini) berpikir lebih maju dari zamannya, dan tidak terbatas pada tempat tertentu. Dia berhasil meninggalkan warisan yang besar untuk sejarah dunia."
Ahmad Huber, Penulis dan Pemikir Swiss:
"Beliau datang dari masa lalu dan hidup di masa kini, namun dia menampakkan masa depan. Hari ini di Eropa terasa bahwa runtuhnya tembok Berlin terjadi berkat revolusi Islam Iran. Pengaruh dari kebangkitan Islam ini dapat dirasakan di Eropa."
Henry Kessinger, mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat dan penasehat strategis AS 1970-an yang beragama Yahudi:
"Ayatollah Khomeini telah menghadapkan dunia Barat pada tantangan besar. Keputusan-keputusannya bagaikan petir menyambar yang tak memberikan kesempatan kepada para teoretis dan politikus untuk berpikir."
"Tak ada yang dapat menduga keputusan apa yang bakal dia buat. Dia berbicara dan bertindak tidak dengan model-model yang dikenal dunia secara umum. Seakan ia menerima ilham dari tempat lain. Permusuhan Ayatollah Khomeini dengan Barat bermuara pada ajaran ilahi. Dalam bermusuhan dia sangat tulus."
Talal Atrisi, dosen di salah satu perguruan tinggi Lebanon:
" Kepemimpinan Imam Khomeini dan kemenangan revolusi Islam menjadi penggerak agi peradaban dunia saat ini."
Massimo Finni, jurnalis Italia;
"Hakikat dari revolusi Islam dan pemikiran Ayatollah Khomeini sangat dalam. Barat tak mampu memahaminya."
Mohammad Al-Ashi, mantan Imam Masjid Washington;
"Imam Khomeini mengguncangkan sendi-sendi Barat dan Timur. Dia meninggalkan pusaka yang hingga kini masih hidup dan aktif."
Imam Khomeini dan Kebangkitan Islam
Hari-hari ini, nama Imam Khomeini dan kenangan tentang beliau kembali hidup dalam ingatan. Beliau adalah sosok pemimpin besar yang telah melepaskan dirinya dari belenggu egoisme dan keakuan untuk membawa bangsanya bahkan bangsa-bangsa lain kepada kehormatan. Saat ini, ketika arus kebangkitan rakyat di kawasan Timur Tengah memuncak dan kaum tertindas bangkit melawan para penindas, kenangan akan pemimpin agung itu kembali hidup menyertai gema dan pekik kebangkitan rakyat.
Dalam kamus istilah politik dunia saat ini, dalam berbagai konferensi resmi, bahkan dalam pembicaraan para pemimpin dunia, topik yang ramai dibahas adalah perkembangan dunia dan peran revolusi Islam Iran yang menciptakan perimbangan baru di dunia politik dan budaya. Kesadaran umat Islam, kecenderungan untuk kembali kepada al-Qur'an, kebanggaan kepada khazanah Islam yang kaya, adanya tanda-tanda kelahiran kembali peradaban Islam, semua itu adalah pengaruh nyata dari revolusi Islam yang dipimpin Imam Khomeini. Menurut sebagian besar pengamat, pengaruh revolusi Islam Iran terhadap kebangkitan umat Islam tidak dapat dipungkiri. Dr Muhammad al-Farali, seorang cendekiawan Mesir mengatakan, "Kebangkitan Islam adalah istilah kata baru yang menyebar luas setelah revolusi pimpinan Imam Khomeini."
Saat ini seiring dengan peringatan 22 tahun wafatnya Imam Khomeini, kita menyaksikan terjadinya transformasi besar di dunia. Islam yang dulu diremehkan dan dilecehkan telah menemukan tempat yang sebenarnya dan tampil sebagai rival paling tangguh bagi dunia Liberalisme Barat. Barat dan kaum Zionis yang merasa terancam selalu menyerang Islam dimana saja. Di sisi lain, dengan menyebarnya aroma wewangi Islam yang suci, umat Islam menemukan kebanggaan, dan rasa percaya diri serta semangat meraih kebebasan di hati mereka semakin menguat. Hal ini disadari benar oleh Imam Khomeini (ra). Beliau mengatakan, "Gema revolusi Iran yang agung ini telah merambah negara-negara Islam."
Sebulan sebelum kemenangan revolusi Islam di tahun 1979 seorang wartawan bertanya kepada Imam Khomeini, menurut Anda apakah dampak dari revolusi di Iran akan merambah sampai Turki? Beliau menjawab, "Gerakan kebangkitan di Iran yang suci ini adalah kebangkitan Islam. Karena itu pengaruhnya akan dirasakan oleh umat Islam di seluruh dunia." (Sahife-ye Nur vol: 4 hal: 114)
Perkembangan gerakan kebebasan dan anti hegemoni asing yang melibatkan para pemuda di dunia Islam seperti di Mesir, Tunisia, Bahrain, Libya, dan Yaman serta keberhasilan para pejuang Muslim mengusir tentara Zionis dari Lebanon Selatan, kian menguatnya semangat juang di tengah rakyat Palestina, mengakarnya norma-norma mulia seperti pengorbanan, kesetiaan, jihad, dan kesyahidan bukan masalah yang mudah dicerna oleh para pemilik kekuasaan. Mantan Menteri Luar Negeri AS, Alexander Haig mengatakan, "Menurut saya, yang lebih berbahaya dari masalah dunia internasional adalah dampak buruk dari kian meluasnya Islam yang muncul dari Iran dan sekarang Irak. Fenomena ini mengancam stabilitas semua rezim Arab yang moderat di kawasan. Jika lepas kontrol, fenomena ini akan sangat membahayakan kepentingan kekuatan adi daya dunia."
Gerakan kebangkitan Islam memang sudah bergulir di banyak negara sejak dua abad yang lalu. Namun geliat kebangkitan ini semakin nampak nyata dan bergerak cepat sejak Imam Khomeini mengibarkan panji gerakan Islam di Iran. Kemenangan revolusi Islam yang dipimpin pejuang besar ini membuktikan kepada bangsa-bangsa tertindas di dunia bahwa dengan tawakkal kepada Allah, resistensi dan kegigihan rakyat, ketidakbergantungan kepada ideologi materi dan kebersandaran pada ajaran Islam rezim dependen yang paling kuat pun akan dapat dikalahkan.
Yahya Abdulaziz Jammeh, mantan Presiden Gambia menyebut revolusi Islam Iran sebagai teladan yang paling baik untuk bangsa-bangsa lain di dunia. Jammeh mengatakan, "Revolusi Islam telah mengajarkan kepada bangsa-bangsa yang menderita di dunia bahwa mereka bisa bebas dari pengaruh hegemoni asing."
Dari pandangan yang lain dapat dikatakan bahwa revolusi Islam Iran telah melahirkan gelombang arus yang baru di tengah bangsa-bangsa Muslim. Revolusi ini telah menghidupkan kembali slogan-slogan politik dan sosial Islam yang sudah lama terlupakan. Slogan kebebasan, kemerdekaan dan persatuan yang muncul dari dalam ajaran Islam menyulut keberanian umat Islam untuk tampil melawan kekuatan arogan. Kubu arogan menggunakan berbagai macam modus dan cara untuk bisa menyusup ke dalam umat Islam dan negara-negara Muslim. Mereka berusaha keras mengesankan keunggulan budaya dan peradaban Barat atas peradaban dan budaya Islam. Dengan demikian mereka berharap bisa membuat umat Islam kehilangan jatidiri dan kebudayaannya sendiri. Barat menyadari dengan benar bahwa merusak budaya keagamaan umat Islam dari dalam bukan hanya akan membuka pintu bagi hegemoni budaya dan politiknya di tengah kaum muslimin tetapi juga akan mematikan daya juang dan tekad umat untuk melawan kekuatan militer dan ekonomi Barat.
Dengan keberhasilannya menghidupkan kembali Islam dan ajaran sucinya di negeri Iran yang mengubah negara ini menjadi teladan bagi negara-negara lain di kawasan bahkan dunia, Imam Khomeini menyeru umat Islam untuk kembali kepada jatidiri mereka yang sebenarnya. Jatidiri itulah yang akan mencegah mereka terjebak dalam kekuasaan asing yang ingin menguasai mereka secara politik, ekonomi dan militer.
Beliau mengatakan, "Saya berharap menjelang abad yang baru, umat Islam di dunia dapat mengenal dan memahami dengan baik derita mereka dan penyebabnya. Saya berharap dengan persatuan yang penuh, dengan bersandar kepada Islam dan bernaung di bawah panji Islam yang membanggakan ini, umat Islam bisa melepaskan diri dari belenggu kaum penjajah. Umat Islam harus berpikir untuk mewujudkan kebersatuan yang akrab, mengingat Allah yang Maha Besar dan kepedulian kepada Islam yang mulia. Cara dan langkah utamanya adalah upaya dari bangsa-bangsa Muslim dan pemerintahan di negara-negara Islam yang menjunjung tinggi nasionalisme untuk melepaskan diri dari kebergantungan pemikiran kepada Barat, menemukan kembali budaya dan keotentikan dirinya, mengenal dan memperkenalkan kebudayaan Islam yang agung yang didapatkan melalui wahyu dan ilham Ilahi."
Imam Khomeini telah mengajarkan dan memperkokoh pemahaman dan langkah tentang kebersandaran pada kemampuan diri dan keterbebasan dari pihak asing. Gerakan yang dipimpin oleh beliau ini terus berkembang semakin besar di seluruh penjuru dunia Islam yang diwarnai dengan kian memasyarakatnya budaya keberagamaan di negara-negara Islam. Seiring dengan itu, gelombang kebangkitan Islam semakin kental yang kesemuanya itu telah menghidupkan kembali identitas etika, makrifat dan spiritualitas di tengah masyarakat Muslim. Dan benar yang dikatakan Rahbar Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei bahwa Imam Khomeini adalah hakikat yang selamanya hidup.
Sumber: www.islammuhammadi.com www.indonesiaIRIB.com www.id.al-shia.org