• Black
  • perak
  • Green
  • Blue
  • merah
  • Orange
  • Violet
  • Golden
  • Nombre de visites :
  • 31
  • 17/5/2017
  • Date :

AS Pengobar Krisis di Dunia

Menteri pertahanan Republik Islam Iran menilai intervensi AS di Irak, Suriah dan Yaman sebagai penyulut tragedi besar di kawasan.

as pengobar krisis di dunia

Brigjen Hossein Dehghan dalam acara seminar "Hari Kesadaran dari Ranjau dan Aksi Tangkal" menjelaskan bahwa AS mengejar sebuah sistem satu blok di dunia pasca keruntuhan Uni Soviet.

 

"Washington berusaha mewujudkan ambisinya dengan menciptakan instabilitas di berbagai belahan dunia, termasuk Afghanistan dan Irak," ujar Dehghan.

 

Pasca perang dunia kedua, AS menjalankan kebijakan yang menyebabkan sekitar 20 hingga 30 juta orang atau sekitar sepertiga korban perang dunia.

 

Perang langsung dan tidak langsung AS di Afghanistan, Pakistan, Sudan, Irak dan negara lainnya telah menimbulkan korban jutaan orang. Iran juga termasuk deretan korban lain dalam perang yang disulut AS.

 

AS tidak hanya bertanggung jawab terhadap pembunuhan langsung manusia, tapi juga mendukung kejahatan yang dilakukan sejumlah rezim agresor semacam Arab Saudi dan Israel.

 

Sejak era perang dingin hingga kini, AS mengklaim sebagai pengibar bendera demokrasi dan kebebasan di seluruh penjuru dunia. Tapi faktanya, rapor Gedung Putih terisi warna merah pembantaian yang dilakukan AS di berbagai negara dunia. Pasca terjadinya peristiwa 11 September 2001, AS menyerang Afghanistan dengan dalih menumpas terorisme. Kemudian dilanjutkan diinvasi Irak dengan alasan senjata kimia. Hingga kini klaim AS yang dipergunakan sebagai dalih penyerangan tidak terbukti.

 

Perang Irak, contoh lain dari kejahatan AS. Pasca peristiwa 11 September 2001, AS mengobarkan perang baru di Afghanistan, dan Irak serta berlanjut ke berbagai negara lain bersama aktor regional dan internasional lainnya dengan dalih menumpas terorisme. AS menyerang Afghanistan dengan alasan menumpas Taliban, padahal kelompok ekstrem ini dibidani kelahirannya oleh Washington. Sebelumnya AS juga menjadi pendukung utama kelahiran kelompok teroris Al Qaeda, dan selanjutnya Daesh. Slogan perang melawan terorisme yang diusung Gedung Putih hanya alat bagi Washington untuk menjustifikasi ambisinya.

 

Alasan serupa juga disampaikan Washington ketika menembakkan rudal ke Suriah. Tanpa menyodorkan bukti yang bisa dipertanggungjawabkan, AS menuding pemerintah Suriah sebagai pihak yang melakukan serangan senjata kimia di Khan Sheikhun, Aleppo. Klaim Washington tersebut tidak didukung oleh sumber terpercaya mana pun, bahkan oleh PBB sendiri. Ironisnya, berbagai sumber justru menunjukkan fakta bahwa serangan senjata kimia di Khan Sheikhun dilakukan oleh kelompok teroris yang didukung Barat. Serangan rudal AS ke Suriah ini tidak mendapat izin dari PBB.

 

Iran juga termasuk deretan  korban kejahatan AS. Senjata kimia yang diberikan AS dan sejumlah negara Barat lainnya kepada rezim Saddam dipergunakan untuk membantai warga Iran di Sardast serta Halabche di Irak. Meskipun telah berlalu 29 tahun, tapi dampak buruk dari kejahatan rezim Saddam yang didukung Barat, termasuk AS terhadap Iran hingga kini masih berbekas, dan meninggalkan luka menyayat.

 

Bangsa Jepang juga menjadi korban kejahatan AS yang menjatuhkan bom atom dengan daya ledak dasyat. Korban serangan bom tersebut hingga beberapa generasi lamanya. Penggunaan senjata terlarang dalam perang Irak dan Balkan, selain menimbulkan korban jiwa juga menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan hidup. Benar kiranya, ketika menhan Iran menegaskan bahwa intervensi AS menjadi penyebab krisis di kawasan dan dunia.

 

Sumber:
www.parstoday.com

  • Print

    Send to a friend

    Comment (0)