• Black
  • perak
  • Green
  • Blue
  • merah
  • Orange
  • Violet
  • Golden
  • Nombre de visites :
  • 50
  • 27/10/2017
  • Date :
Imam Husain

Imam Husain: Pribadi Didikan Rasulullah Saw.

“Orang yang paling dicintai Allah swt adalah orang yang paling mencintai Husain” -Rasulullah saw.

 imam husain: pribadi didikan rasulullah saw.
Sosok imam Husain a.s. dapat dipandang dari berbagai macam dimensi dan salah satunya ialah dalam beberapa tahun pertama kehidupannya. Kendati masih seoranganak kecil, bertahun-tahun ia hidup di bawah pengawasan dan bimbingan kakeknya yang agung, Rasulullah Saw. Pada masa tahun-tahun pertama semacam ini, setiap orang ibarat tunas muda yang sedang mengalami proses pertumbuhan fisik dan spiritual yang sangat berperan dalam membentuk kepribadiannya, termasuk pribadi Imam Husain a.s.. Tulisan singkat ini ditulis dalam rangka menggambarkan hubungan Rasulullah Saw. dengannya dalam kurun waktu yang tidak berlangsung lama. (Baca Juga: Perjuangan Imam Husain Membangun Moralitas dan Keadilan)

Hari Kelahiran
Rasulullah Saw. sangat gelisah atas kondisi putrinya yang sedang dalam proses melahirkan anak keduanya. Jarak kehamilan dan kelahiran anak pertama dengan anak keduanya ini tidak berlangsung lama. Dikatakan

bahwa jarak tersebut kurang dari satu tahun. Hal inilah yang menambah kecemasan beliau. Beliau berpesan kepada para wanita yang menemani putrinya untuk segera memberitahukan dan membawakan cucunya kepadanya setelah lahir. Kemudian, tanpa menunda-nunda, mereka langsung memenuhi pesan Rasulullah Saw dengan membawakan Husain kepadanya. Mereka melakukan sedikit kekeliruan, yaitu membungkus Husain dengan kain berwarna kuning. Beliau Saw. melepas kain tersebut dan menggantinya dengan kain berwarna putih, serta memberikan aroma semerbak kepadanya dengan air dan mulut suci beliau. Demikian, pada awal langkahnya ke dunia, Husain merupakan air wewangian keberadaan beliau Saw. sebagai Nabi penutup kenabian.

Penamaan
Husain seperti saudaranya, Hasan, diberi nama oIeh Rasulullah saw. Beliau memberikan nama kepadanya pada hari ketujuh kelahirannya. Penamaan Husain adalah karena perintah Allah Swt. Beliau berkata, “Harun (saudara Nabi Musa a.s.) memberikan nama kepada putra putranya dengan nama “Syabbar” dan “Syubbair”, akupun menamai kedua cucuku dengan Hasan dan Husain.”

Dengan demikian, nama Husain merupakan pilihan Nabi Saw. Husain ialah sebuah nama yang seolah-olah tidak dikenal dan tidak umum di kalangan orang-orang Arab. Barangkali dengan alasan ini, Rasulullah Saw. menjelaskan bahwa nama Husain ialah pilihan yang berdasarkan perintah Allah, di dalamnya terkandung hikmah dan rahasia di mana putra-putra Ali bin Abi Thalib diberi nama mirip dengan nama putra-putra Harun a.s.. Artinya, Ali bin Abi Thalib mempunyai kedudukan di sisi Rasulullah Saw. Sama seperti kedudukan Harun di sisi Nabi Musa a.s., maka putra-putra beliau pun merupakan penerus misi beliau. Oleh karenanya, nama putra-putra Ali bin Abi Thalib menyerupai nama putra-putra Harun a.s..

Etika Kelahiran
Rasulullah Saw. mengamalkan sunnah dan etika saat kelahiran Husain dengan membacakan Azan di telinga, melaksanakan akikah, mencukur rambutnya dan mengeluarkan sedekah berupa perak sesuai berat timbangan rambutnya.

Demikian Rasulullah Saw. menampakkan kedekatan dengan keturunannya dengan mempraktikkan etika kelahiran ini. Beliau memainkan peran seorang ayah dan ibu. Hasilnya, di samping mengajarkan etika-etika terhadap para bayi muslim, beliau telah menunjukkan bahwa Hasan dan Husain adalah putra-putra beliau secara langsung.

Kasih Sayang Nabi Saw. yang Tak Terhingga
Rasulullah Saw. sangat mencintai Husain sebagaimana kecintaan beliau kepada Hasan, saudaranya. Kasih sayang ini beliau tuangkan baik di rumah maupun di tempat-tempat umum. Beliau menggendong Husain dan menciuminya. Terkadang beliau sampai menempelkan bibir sucinya pada bibir Husain, beliau menciumnya, hingga tak jarang, air ludah cucunya ini terhisap oleh beliau. Seperti inilah kedalaman cinta beliau yang ditunjukkan kepadanya.

Kasih sayang beliau kepada Husain yang sedemikian rupa ini belum pernah ada dan tidak pernah dilakukan oleh masyarakat saat itu dan membuat mereka sangat terheran-heran. Dikatakan bahwa suatu kali beliau pernah mendekap Husain dan menciumnya,lalu seorang lelaki dari Anshar-yang menyaksikan hal yang baginya aneh ini mengatakan, “Aku punya seorang putra, tetapi sama sekali tidak pernah aku menciumnya”. Beliau Saw. berkata: “Seandainya Allah Swt. mencabut rasa kasih sayang dari hatimu, apakah dosaku?”

Beginilah Rasulullah Saw. membangun pendidikan khusus dalam menyayangi anak-anak kecil dan kasih sayang beliau ini menyebar luas di kalangan masyarakat. Sebagai contoh, beliau yang pada waktu di kota Madinah-meskipun seorang Nabi juga seorang pemimpin masyarakat madinah tidak sungkan untuk bermain dengan Hasan dan Husain dalam permainan anak-anak.

Dikatakan bahwa terkadang Rasulullah Saw. memegang tangan Husain dan meletakkan kakinya di atas kaki beliau dan dengan langkah kekanak-kanakan sambil bermain-main, beliau mengangkatnya, sehingga tatkala sampai ke dadanya, beliau mencium Husain.

Tidak ada yang menandingi Rasulullah Saw. dalam memasyarakatkan kasih sayang kepada anak-anak kecil ini. Pada suatu hari beliau membawa Hasan di atas pundak sebelah kanan dan Husain di atas pundah sebelah kiri sambil berjalan di tempat umum bukan di rumah. Para sahabat beliau berkata “Betapa baiknya kendaraan ini”. Beliau menjawab, “Betapa baiknya para pengendaranya”.

Referensi:
Ditulis oleh Sayyid Abbas Salehi di buku “Hikmah Abadi Revolusi Imam Husain” , Sadra Pres. hlm. xxvii-xxx

Sumber:
www.syiahmenjawab.com
  • Print

    Send to a friend

    Comment (0)