• Black
  • perak
  • Green
  • Blue
  • merah
  • Orange
  • Violet
  • Golden
  • Nombre de visites :
  • 66
  • 27/10/2017
  • Date :
Sejarah Fikih dan Fukaha

Sejarah Ilmu Ushul

Para Fuqaha Syi'ah diantaranya adalah Ulama Hilli, Ali ibnu Babawaih Qummy Syaikh MufidAli ibnu Babawaih Qummy, 'Ayasyi Samarqandi, 'Ayasyi, Ibnu Jamid Iskafi, Syaikh Mufid, Sayyid Murtadha, Syaik Abu Ja'far at-Tusi,Ibnu Idris al-Hilli, Ibnu Hasan bin Yusuf bin Ali bin Muthahhar al-Hilli, Muhammad Ibnu Makki, Wahid Bahbahani, Syekh Murtadha Anshari dan yang lainnya.

sejarah ilmu ushul
Salah satu persiapan untuk mempelajari bidang ilmu apa pun adalah dengan memberi perhatian kepada tokoh-tokoh terkemuka di bidang itu, berbagai pandangan dan gagasan serta kitab-kitabnya yang penting. (Baca Juga: Ushul Fiqh; Wafat Nabi Bukan Akhir Periode Nash)

Fiqih, seperti yang tersusun dalam kitab-kitab yang masih dipelajari hingga kini, memiliki sejarah sebelas ratus tahun, artinya selama sebelas abad, tanpa putus, sudah ada pusat-pusat penelahaan fiqih dan studi-studi yang berkaitan. Para guru mendidik muris-murid dan mereka pada gilirannya, mendidik murid-muridnya, dan ini berlangsung turun temurun hingga sekarang. Lebih dari itu, hubungan antara guru dan murid ini tidak pernah terputus.

Tentu saja bidang-bidang lainnya, seperti filsafat, logika, aritmatika dan kedokteran, telah dipelajari jauh lebih lama lagi, dan kitab-kitab yang ada mengenai masalah ini adalah lebih tua dari pada kitab-kitab yang ada dibidang fiqih. Mungkin tidak ada diantara subjek-subjek ini yang dapat mempertahankan jenis hubungan yang langgeng antara guru dan murid sebagaimana telah ditunjukkan dalam fiqih. Bahkan kalaupun hubungan yang konstan seperti ini ada dalam subjek-subjek lain, ia hanya terdapat pada bidang studi-studi Islam tertentu. Hanya dalam Islamlah system pengajaran dan pendidikan memiliki kelangsungan sejarah tanpa putus selama seribu tahun.

Para Fuqaha Syi'ah
Kita akan mulai denga sejarah para Fuqaha syi'ah dari masa "ghaib kecil" Imam Mahdi as (260-320 H). Dan hal ini dilakukan karena dua alasan: pertama, masa sebelum gaib kecil adalah masa hadirnya para Imam suci, dan dalam masa kehadiran mereka, meskipun ada para fuqaha yang mampu membuat fatwa-fatwa sendiri yang melakukannya atas dorongan para Imam, namun karena adanya para Imam, mereka tidak dapat menyaingi kecerdasan para Imam. Artinya, perujukan berbagai masalah kepada fatwa-fatawa fuqaha adalah karena tidak adanya jalan yang terbuka untuk menemui para Imam. Di masa para Imam, bagaimanapun, umat mencoba sejauh mungkin untuk merujuk kepada sumber asli dari para Imam. Demikian juga, bahkan para fuqaha, mengingat jarak dan berbagai kesulitan lainnya, sedapat-dapatnya membawakan masalah-masalah mereka ke hadapan pada Imam. (Baca Juga: Mengenal Ilmu Ushul Fikih)

Kedua, dalam fiqih formal, kita terbatas kepada masa gaib kecil, karena tidak ada kitab-kitab aktual Fiqih dari masa itu yang sampai kepada kita, atau, jika ada, penulis tidak memiliki keterangan tentang itu.
Namun di antara kaum Syi'ah ada para fuqaha besar dari masa para Imam suci, yang nilainya dapat dilihat dan ditentukan dengan membandingkannya dengan para fuqaha mazhab lainnya yang hidup di masa mereka. Dari Sunni,, Ibnu Nadin menulis di dalam kitabnya, fibrits, tentang Husein ibnu Sa'id Ahwazi dan saudaranya, keduanya fuqaha terkemuka Syi'ah, "mereka adalah yang terbaik di antara orang-orang di zaman mereka dalam ilmu Fiqih, hasil-hasil (tulisan-tulisan dan kompilasi-kompilasi) serta bakat-bakat," dan tentang Ali ibnu Ibrahim Qummy, Ibnu Nadin menulis, " Di antara ulama dan fuqaha," dan tentang Muhammad ibnu Hasan ibnu Ahmad ibnu Walid, " Dan ia memiliki kitab-kitab yang di antaranya adalah jam'I fil Fiqh."

Tentunya kitab-kitab ini tersusun dari hadits-hadits tentang berbagai macam masalah fiqih yang dianggap penyusunnya sebagai hadits yang dapat dipercaya, dan mereka merujuk kepadanya, berikut dengan ulasan penyusunnya.

Ulama Hilli, dalam pengantar kitabnya Mu'tabar, menulis, "Mengingat banyaknya jumlah fuqaha kita (semoga Allah memeridhoi mereka) dan hasil kompilasi mereka dan tidaklah mungkin untuk menyebutkan semua nama mereka, penulis akan mencukupkan diri dengan orang-orang yang sangat masyhur kebaikannya, penelitian dan pilihannya yang baik serta dengan kitab-kitab para suri teladan sempurna yang ijtihad-nya disebutkan sebagai kitab-kitab yang dapat dipercaya.

"Orang-orang yang akan saya sebutkan yang masuk sejak masa awal (yakni masa kehadiran para Imam), Hasan ibnu Mahbub, Ahmad ibnu Ali Nasr Bazanti, Husain bin Sa'id, Fadi bin Syathan, Yonis bin Abdurrahman, dari periode kemudian,Muhammad ibnu Babwayh Qumi(syaikh Saduk),dan Muhammad ibnu Ya'qub Kulayni dan dari para penulis fatwa,Ali ibnu Babwayh Qumi,Ibnu Jamid Iskafi,Ibnu Ali 'Agil,syaikh Mufid,Sayyid Murtadha Alam Ul-Huda dan syaikh Thusi…"

Perhatikan bahwa walaupun kelompok pertama dikutip sebagai memiliki pandangan dan pilihan yang baik serta ijtihad sendiri,mereka tidak disebut sebagai para pakar fatwa. Hal ini dikarenakan kitab-kitab mereka,walaupun berupa ikhtisar dari ijthad mereka, merupakan kumpulan hadis-hadis dan bukan dalam bentuk fatwa-fatwa.

Sekarang kita akan melihat sejarah para Fuqaha syi'ah,sebagaimana telah saya katakan,dari masa ghaib Imam.
Ali ibnu Babawaih Qummy, wafat 329 H, dimakamkan di Qum. Ayah dari Syaikh Muhammad bin Ali bin Babawaih dikenal sebagai Syekh Shaduq, yang dimakamkan di dekat Tehran. Putra beliau terpelajar dalam hadits; ayahnya dalam Fiqih dan menyusun sebuah kitab fatwa. Biasanya ayah dan putranya ini disebut saduqain.

'Ayasyi Samarqandi, hidup di masa yang sama dengan Ali bin Babawaih atau sedikit sebelumnya. Ia adalah penulis tafsir qur'an terkemuka. Meskipun kekhususannya adalah tafsir, beliau masih terhitung di antara para Fuqaha. Beliau banyak menulis kitab dalam berbagai bidang termasuk Fiqih. Ibnu Nadim menulis, bahwa kitab-kitab beliau sebagian besar ada di Khurasan, tetapi saya belum melihat berbagai pandangannya dikutip di tempat lain, dan kitab-kitab Fiqih-nya sudah tidak ada lagi.

'Ayasyi asalnya seorang Muslim sunni tetapi kemudian menjadi seorang Syi'ah. Beliau mewarisi harta yang banyak dari ayahnya, dan dihabiskannya untuk mengumpulkan dan menyalin kitab-kitab dan untuk mengajar dan mendidik murid-muridnya.

Ibnu Jamid Iskafi, salah seorang guru dari Syekh Mufid. Tampaknya beliau wafat pada 381 H dan dikatakan bahwa kitab-kitab dan tulisan-tulisannya berjumlah lima puluh buah. Berbagai pandangan beliau pernah menjadi bahan pertimbangan dalam Fiqih hingga kini.

Syaikh Mufid. Nama beliau adalah Muhammad bin Muhammad bin Naman. Beliau adalah seorang teolog dan sekaligus faqih. Ibnu Nadim, dalam sebuah bab dari kitabnya, fihrits, yang membahas mutakallimin Syi'ah, menyebut nama beliau "Ibnu Mu'allim", dan memuji-muji beliau. Ia dilahirkan tahun 336 H, dan wafat 413 H. kitab beliau yang terkenal dalam Fiqih adalah Muqna'ah, masih digunakan hingga kini.

Anak angkat Syaikh Mufid, Abu Ya'la Ja'fari, bercerita kepada kita bahwa Syaikh Mufid tidur sedikit di waktu malam, dan menghabiskan waktu istirahatnya untuk beribadah, belajar dan mengajar atau membaca al-Qur'an.
Sayyid Murtadha, dikenal sebagai Alam Al-Huda, lahir 355 H dan wafat 436 H. Allamah Hilli menyebut beliau sebagai guru kaum Syi'ah dari para Imam. Biliau adalah seorang pakaar dalam bidang etika, teologi dan Fiqih. Berbagai pandanga beliau di bidang Fiqih masih dipelajari oleh para Fuqaha sekarang. Beliau dan saudaranya, Sayyid Radhi, adalah penyusun Nahjul Balaghah, keduanya belajar di bawah bimbingan Syaikh Mufid.

Syaik Abu Ja'far at-Tusi, salah satu bintang terang di dunia Islam, banyak menulis kitab Fiqih dan Ushul Fiqih, hadits, syarah dan musnad. Beliau berasal dari Khurasan (iran Timur), yang lahir pada 385 H dan setelah dua puluh dua tahun belajar, kemudian hijrah ke Baghdad yang pada masa itu merupakan pusat studi dan Budaya Islam. Beliau menetap di Irak sepanjang hidupnya dan setelah guru beliau wafat, Sayyid Murtadha, bimbingan pengajaran dan maqam rujukan tertinggi untuk fatwa-fatwa diberikan kepada beliau.

Syaikh Tusi menetap di Baghdad selama dua belas tahun lebih, tetapi kemudian, karena serangkaian kerusuhan yang memorak-morandakan rumah dan perpustakaannya, beliau pun berangkat ke Najaf di mana beliau membuat pusat skolastik terkenal yang hingga kini masih ada. Di sana, pada tahun 460 H beliau wafat.

Salah satu kitab yang disusun Syaikh Tusi mengenai Fiqih adalah al-Nihayah, dan digunakan sebagai buku panduan bagi para pelajar agama. Kitab lainnya, Masbut, membawa Fiqih ke suatu tahap baru dan merupakan Fiqih Syi'ah yang paling terkenal pada masanya. Dalam Khilaf, kitab beliau lainnya, beliau menulis tentang berbagai pandangan para Fuqaha mazhab Sunni dan Syi'ah. Beliau juga menulis kitab-kitab Fiqih lainnya, dan hingga sekitar seabad yang lalu, setiap nama Syaikh Tusi disebut-sebut, yang dimaksudkan adalah Syaikh Tusi, dan gelar Syaikhain ditujukan kepada Syaikh Tusi dan Syaikh Mufid. Menurut riwayat dalam beberapa kitab, tampaknya putri-putri Syaikh Tusi adalah juga para fuqaha terkemuka.

Ibnu Idris al-Hilli, salah seorang ulama Syi'ah yang termasyhur. Beliau sendiri adalah seorang Arab, walau Syaikh Tusi terhitung menjadi kakeknya dari pihak ibu. Beliau dikenal karena kemerdekaan berpikirnya; beliau memutuskan kekaguman dan perujukan kakek beliau Syaikh Tusi dan kritik-kritik beliau atas Fuqaha yang berbats pada ketidaksopanan. Beliau wafat pada 598 H dalam usia lima pulih lima tahun.

Syekh Abu al-Qasim Ja'far bin Hasan bin Yahya bin Sa'id al-Hilli, dikenal sebagai Muhaqqid al-Hilli. Penulis berbagai kitab Fiqih, di antaranya; Syarai'e, Ma'arij, al-Mukhtashar an-Nafi' dan banyak lagi lainnya. Beliau adalah murid Ibnu Idris al-Hilli yang hendak kita bicarakan. Dalam Fiqih beliau tidak ada tandingannya. Setiap kali berbicara dalam term fiqih, kata muhaqqiq digunakan untuk merujuk kepada beliau. Para filosof dan ahli matematika besar sering menenui beliau dan ikut menghadiri kuliah-kuliah fiqih beliau. Kitab-kitab muhaqqiq, khususnya kitab syara'i, menjadi buku pegangan bagi para pelajar hingga kini; di samping itu, kitab-kitab beliau juga menjadi bahan untuk syarah-syarah di antara para fuqaha lainnya.

Ibnu Hasan bin Yusuf bin Ali bin Muthahhar al-Hilli, yang dikenal sebagai Allamah Hilli, adalah salah satu di antara tokoh yang hebat sepanjang zaman. Kitab-kitab yang telah ditulis oleh beliau berkisar di bidang-bidang Fiqih, Ushul, Teologi, Logika, Filsafat, Musnad dan berbagai bidang lainnya. Sekitar seratus kitab beliau telah diakui, beberapa di antaranya; Tazdkirat al-Fuqaha saja sudah cukup menunjukkan kejeniusan beliau. Allamah banyak menulis kitab tentang fiqih yang sebagian besar,seperti kitab muhaqqiq,telah dikomentari oleh para fuqaha sesudahnya.Kitab beliau yang terkenal di bidang Fiqih meliputi Irsyad,Tabsaratul Muta'allimin,Qawaid,Tahrir,Tathkirat Ul-Fuqaha,Mukhtalif Asy-syi'ah dan Mutaha.Beliau belajar dibawah bimbingan berbagai guru;Fiqih dibawah paman dari pihak ayah beliau,Muhaqqiq Hilli,filsafat dibawah khawajeh Nasir Ad-Din Tusi,dan fiqih sunni di bawah para ulama sunni.Beliau lahir pada 648 Hdan wafat 726 H.

Muhammad Ibnu Makki, dikenal sebagai syahid awwal (syahid pertama); salah seorang faqih besar Syi'ah. Beliau sejajar dengan muhaqqiq Hilli dan Allamah Hilli. Beliau berasal dari jabal amal,sebuah wilayah yang kini berada di libanon selatan yang merupakan salah satu pusat kaum syi'ah tertua dan hingga kini masih merupakan wilayah syi'ah .Syahid awal lahir pada 734 Hdan pada tahun 786 H merupakan fatwa seorang faqih dari mazhab Maliki yang didukung oleh seorang faqih dari mazhab syafi'i,beliau dibunuh.Beliau adalah murid dari murid-murid Allamah Hilli, di antaranya adalah, anak Allamah,Fakhrul Muhaqqaqin.Kitab -kitab terkenal syahid awwal dibidang Fiqih antara lain al-Lum'ah yang disusunnya dalam masa yang singkat ketika ia di penjara menanti masa kesyahidannya.Mengagumkan bahwa kitab yang mulia ini menjadi bahan syarah-an dua abad kemudian oleh seorang faqih besar lainnya yang mengalami nasib yang sama sebagai seorang penulis. Dia juga mati syahid dan karenanya disebut syahid Ast-Tsani (syhid kedua).kitab yang terkenal syarh ul-lum'ah,yang merupakan buku pegangan utama bagi pelajar fiqih sejak dulu, adalah hasil syarah Syahid ats-Tsani. Kitab Syahid Awal yang lain meliputi Duraou, Dzikra, Bayan, Alfiyah, dan Qawaid. Semua kitab Syahid awal di antaranya merupakan tulisan-tulisan fiqih tak ternilai.

Syahid Awal bersal dari keluarga yang sangat terhormat, dan generasi yang dating menggantikan beliau menjaga kehormatan ini. Beliau memiliki tiga orang putra yang semuanya adalah ulama dan Fuqaha, dan istri serta anal beliau juga fuqaha.

Syaikh Ali bin Abu al-A'la Karaki, dikenal sebagai Muhaqqiq Karaki atau Muhaqqiq Tsani. Salah seorang faqih Jabal Amal dan faqih terbesar Syi'ah. Beliau menyempurnakan studi di Surya dan Irak dan kemudian pergi ke Iran dan jabatan Syaikh al-Islalm untuk pertama kalinya diserahkan kepada Iran ketika kedudukan tersebut dipercayakan kepada beliau. Perintah yang ditulis oleh raja Iran yang sedang berkuasa pada saat itu, Syah Tahmaseb, atas nama Muhaqqiq Karaki yang di dalamnya dituliskan bahwa, sanga saja memberi beliau control ketat, menyatakan bawha beliau adalah wakil saja satu-satunya, amatlah terkenal. Kitab Muhaqqiq Karaki yang termasyhur yang sering dibicarakan dalam fiqih adalah Jam'I al-Maqasid, yang merupakan syarah atas Qawaid karya Allamah Hilli.

Kedatangan Muhaqqiq di Iran dan pendirian sebuah Universitas keagamaan di Qazwin dan kemudian di Ishfahan oleh beliau berikut didikannya yang diberikan kepada murid-murid terkemuka dalam Fiqih, menyebabkan Iran untuk pertama kalinya sejak zaman shaduqain, menjadi pusat fiqih Syi'ah. Beliau wafat antara tahun 937 H dan 941 H. beliau pernah menjadi murid dari murid-murid Syahid Awal, seperti Fazlil Miqdad.

Syahid Zainuddin yang dikenal sebagai As-Syahid as-Tsani (Syahid Kedua) adalah faqih besar Syi'ah lainnya. Pakar beberapa ilmu pengetahuan ini, berasal dari jabal Amal dan keturunan seorang shaleh yang adalah murid dari Allamah Hilli. Tampaknya keluarga Syahid Tsani berasal dari Tus, dan kadang-kadang beliau menandatangani namanya dengan "at-Tus as-Syami". Ia dilahirkan pada tahun 911 H dan Syahid pada tahun 966 H. beliau banyak melawat dan pernah belajar di bawah bimbingan banyak guru. Ia pernah ke Mesir, Surya, Hejaz, Yuresalem, Irak, dan Istambul, dan di setiap tempat itu ia sempat berguru. Tercatat bahwa guru-guru beliau saja berjumlah dua belas orang. Di samping fiqih dan ushul beliau juga ulung dalam filsafat, gnosis, kedokteran, dan astronomi. Sanad saleh dan bersih, murid-muridnya menulis bahwa beliau memikul kayu di malam hari untuk menghidupi rumah tangganya dan pagi hari ia duduk dan mengajar. Beliau menyusun dan menulis banyak kitab, yang paling terkenal di antaranya dalam Fiqih adalah Syahr Lum'ah, Syarah beliau atas Lum'ah karya Syahid Awal. Beliau adalah murid Muhaqqiq Karaki (sebelum Muhaqqiq hijrah ke Iran), tetapi Iran adalah sebuah tempat yang tidak pernah di kunjunginya. Pengarang kitab Mu'alim yang berisi tentang ulama Syi'ah adalah putera dari Syahid Tsani.

Muhammad bin Baqir bin Muhammad Akmal Bahbahani, dikenal sebagai Wahid Bahbahani, dating setelah masa jatuhnya dinasti Safawi Iran. Setelah penggulingan itu, Ishfahan tidak lagi menjadi pusat agama, dan beberapa ulama serta fuqaha, diantaranya Sayyid Sadruddin Radawi Qummi, guru Wahid Bahbahani, meninggalkan Iran sebagai akibat kerusuhan Afghanistan dan beliau pergi ke Atabat, pusat orang-orang suci Irak.

Wahid Bahbahani menjadikan Karbala sebagai pusat baru dan beliau membimbing sejumlah murid terkemuka, sebagian besar di antara mereka menjadi tokoh terkemuka. Selain itu beliaulah yang memimpin kaum intelektual untuk memerangi gagasan-gagasan kaum Akhbariyyin yang pada masa itu kuat sekali. Kekalahan akhbariyyin dan kebangkitan beliau membuat banyak di antara para Mujtahid mengistilahkan beliau sebagai "Ustad al-Kul" (guru Umum). Kebajikan dan kesalehan beliau begitu sempurna da para pelajar beliau memberika hormat yang mendalam kepada beliau.

Syekh Murtadha Anshari, keturunan dari Jabir bin Abdullah al-Anshari, salah seorang sahabat besar Nabi saaw. Sewaktu berkunjung bersama ayah belaiu ke pusat-pusat suci (atabat) di Irak pada usia dua puluh tahun, para ulama mengagumi kejeniusannya dan meminta ayah beliau agar mengizinkannya menetap di sana. Beliau tinggal di Irak selama empat tahun dan belajar di bawah bimbingan guru-guru terkemuka di sana. Kemudian, karena serangkaian peristiwa yang tidak menyenangkan, beliau kembali ke kampung halamannya. Dua tahun kemudian beliau kembali ke Irak, tinggal di sana selama dua tahun, dan kembali lagi ke Iran, kali ini beliau memutuskan untuk pergi ke Masyhad dan dalam perjalan, beliau mengunjungi Haji Mullah Ahmad Naraqi di Kashan, penulis Jami' Sa'adat yang terkenal. Kunjungan ini berlangsung untuk waktu yang lama, karena beliau mendapat banyak mamfaat dari pengajaran-pengajaran Mullah Ahmad di Kashan selama tiga tahun. Kemudia beliau berangkat ke Masyhad dan tinggal di sana selama lima bulan. Beliau juga merantau ke Isfahan dank e Burujrd di Iran dan tujuan dari semua perjalanan ini adalah untuk belajar dari para alim ulama. Sekitar 1202/3 H untuk terakhir kalinya beliau pergi ke Atabat dan mulai memberikan pelajaran-pelajaran. Setelah Syaikh Muhammad Hasan wafat, beliau kemudian diakui sebagai marja' tunggal (satu-satunya pemegang wewenang perujukan berbagai fatwa).

Syaikh Anshari disebut sebagai khatam al-Fuqaha wal mujahidin. Beliau merupakan salah seorang yang ketajaman dan kedalaman pandangannya hanya sedikit yang menyamainya. Dua di antara kitab beliau, Rasail dan Makasib, kini menjadi buku pegangan bagi para pelajar agama (kelas tinggi), dan banyak syarah telah ditulis menyangkut kitab-kitab beliau oleh para ulama terkemudian. Setelah Muhaqqiq Hilli dan Allamah Hilli serta Syahid Awal, Syaikh Anshari adalah pribadi pertama yang kitab-kitabnya sering menjadi bahan pensyarahan. Beliau wafat pada 1281 H, dimakamkan di Najaf.

Mirza Muhammad Hasan Syirazi, dikenal sebagai Mirza Syirazi. Studi-studi beliau diawali di Isfahan dan kemudian beliau pergi Najaf dan ikut ambil bagian dalam pelajaran-pelajaran Syaikh Anshari dan menjadi salah satu di antara murid-murid Syaikh yang paling terkemuka. Setelah Syekh Anshari wafat, beliau menjadi marja' terkemuka di dunia Syi'ah, dan karenanya beliau terus menetap di sana hingga wafatnya sekitar 23 tahun kemudian. Melalui pengharaman terhadap tembakau oleh orang besar inilah persetujuan monopoli kolonialisme yang terkenal di Iran dapat dipatahkan.

Haji Mirza Husein Naini, salah seorang faqih besar dan pakar ushul abad empat belas Hijriah, murid Mirza Syirazi, yang menjadi guru yang luar biasa. Ketenaran beliau terutama dalam hal ushul, di mana beliau memperkenalkan berbagai pandangan yang baru. Kebanyakan di antara Fuqaha kini (mutaakhir) adalah murid-murid beliau. Beliau wafat pada 1335 H di Najaf. Salah satu kitab yang beliau tulis adalah berbahasa Parsi dan berjudul Tanaziyeh-e Ammeh atau Hukumat dar Islam, yang ditulisnya dalam usaha membela pemerintahan konstitusional dan akar-akarnya dalam Islam.

Sumber:
www.alhassanain.org
  • Print

    Send to a friend

    Comment (0)