• Black
  • perak
  • Green
  • Blue
  • merah
  • Orange
  • Violet
  • Golden
  • Nombre de visites :
  • 21
  • 27/10/2017
  • Date :
Madzhab Fikih

Merajut Persatuan dengan Pendekatan Fiqih

Sepanjang sejarah, persatuan umat dan mazhab Islam telah menjadi pusat perhatian para pemimpin dan pemikir agama serta politik Islam; masing-masing telah berupaya keras dalam medan yang menentukan ini. Dan tugas ini, menurut mereka, salah satu perioritas utama dalam dunia Islam.

 
merajut persatuan dengan pendekatan fiqih
Di awal era ghaibah kubro, seorang faqih Syi'ah terkenal, Syaikh Thusi, mengarang sebuah kitab yang berkualitas, Al-Khilaf dan dengan demikian, potensi-potensi fiqih komparatif di antara empat mazhab terealisasi secara konkret. Setelah itu, ahli-ahli besar seperti: Allamah Hilli, melanjutkan jejak langkah Syaikh Thusi dengan menulis Al-Tadzkiroh. Demikian dalam beberapa abad selanjutnya, para pemikir pembaharu seperti: Sayyid Jamaludin Asad Abadi, Syaikh Muhammad Husain Kasyif Al-Ghita, Syaikh Muhammad Abduh, dll. juga memasuki ranah sosial dan politik seraya menyerukan persatuan umat Islam. Begitu pula pada masa ini, Ayatullah Sayid Abdul Husain Syarafuddin di Libanon, Ayatullah Burujerdi dan Syaikh Muhammad Taqi Qumi di Iran, dan Syaikh Muhammad Syaltut dan Syaikh Muhammad Madani di Mesir, adalah para pelanjut tugas tersebut. (Baca Juga: Masalah yang terdapat pada Mazhab Maliki atau Hanafi)

Kelanjutan dari aktivitas orang-orang besar itu adalah didirikannya sebuah pusat bernama Dar Al-Taqrib bayn Al-Madzahib Al-Islamiyyah di Kairo, Mesir. Beragam buku mengenai hal ini diterbitkan, juga diadakan berbagai pertemuan dan konferensi yang nilai dan arti pentingnya bukan rahasia lagi bagi siapapun. Untuk pertama kalinya, para tokoh mazhab dan golongan duduk berdampingan; seluruh madzhab juga secara bersamaan diajarkan di Universitas Al-Azhar Mesir.

Urgensitas Pendekatan Fiqih
Menurut Imam Musa Shadr, semua usaha ini merupakan langkah positif, suci dan harus dilakukan untuk tujuan persatuan umat Islam; namun tidaklah cukup sebagai langkah terakhir. Dalam metodenya, dia meyakini "wahdah al-fiqh" (persatuan fiqih). Dia mengatakan, "Fiqih Komparatif (upaya pendekatan) para pendahulu ialah sebuah modal atau benih berkah dimana metode persatuan fiqih bergantung pada hal itu, dan dengannya persatuan hukum-hukum syariat akan tergagas secara sempurna."(2) Menurut keyakinannya, berbagai usaha orang-orang besar terdahulu telah menyiapkan dasar-dasar dari masalah ini, dan kita dewasa ini ada dalam beberapa langkah menuju persatuan fiqih. Imam Musa Shadr memandang dialog, konferensi dan diskusi bersama para pemuka madzhab, diterbitkannya buku dan makalah-malah mengenai persatuan Islam bukanlah satu-satunya solusi. Pada hematnya, setiap individu umat Islam di seluruh dunia harus seperti kepalan tangan yang kuat, dan ini hanya mungkin terjadi melalui persatuan fiqih.

Namun jelas pula bahwa maksud Imam Musa Shadr tentang persatuan fiqih di atas bukan berarti tidak ada perbedaan fatwa di antara para fuqaha dan para mujtahid Islam, sehingga semua pikiran mereka sama dan memiliki fondasi serta pola berpikir yang sama. Hal ini sama sekali tidak masuk akal. Dengan berdasarkan hadis Nabi saw., Imam Shadr meyakini bahwa perbedaan di antara umat pada tahap teori dan persepsi semata adalah karunia dan rahmat. Perbedaan dalam pengertian di atas akan menjadi faktor semakin sempurna dan dinamisnya fiqih, serta menjadi sebab bergeraknya para mujtahid dan terbukanya pintu ijtihad. Oleh karena itu, perbedaan pandangan sepanjang di atas batas-batas teoretis keilmuan akan menjadi faktor kondusif, berkah, pemicu perkembangan dan dinamika fiqih. (Baca Juga: Sekilas tentang Madzhab ke Lima, Madzhab Ja’fari)

Namun, ketika perbedaan teoretis ini berkembang dan terefleksi dalam bentuk fatwa atau produk hukum di tengah umat, lalu ternyata hal ini tidak dalam bentuk yang sama dan satu bendera, maka suka atau tidak akan menjadi sebab perpecahan, friksi, perbedaan dan buruk sangka di antara mereka. Inilah gejala yang seharunya dihindari.

Sebagai seorang faqih, pakar dalam masalah-masalah Islam dalam dua dekade terakhir, Imam Musa Shadr terlibat secara kontinyu dalam dinamika politik dan sosial Timur Tengah serta dunia Islam dan Barat. Ia memiliki hubungan dengan para politisi dan pemuka agama dari kedua kutub tersebut, dan sangat memahami sejarah mereka. Ia juga memahami kelemahan dan kelebihan dunia Islam dan kaum Muslimin. Dalam emosinya, ia merasa sedih tatkala setiap tahun di manasik Haji dengan seluruh keagungan dan kemuliannya, seluruh kekuatan Islam yang masih bersifat potensial maupun aktual dengan mudahnya terbuang sia-sia hanya lantaran sebuah perbedaan fiqih yang bersifat parsial. Ia berpikir tentang adanya persatuan ufuk syariat di negara-negara Islam, sehingga pahitnya perbedaan, misalnya, ru'yatul hilal bulan Syawal berubah menjadi manis dan indahnya persatuan ru'yat dan ufuk. Ia menggunakan kesempatan emas ini demi perkembangan, kemajuan, kehormatan dan keagungan umat Islam.

Bahkan Imam Musa Shadr, berdasarkan hal di atas, berpendapat bahwa shalat Jum'at, adzan, hari raya, peringatan wafat dilaksanakan dengan bentuk yang sama serta waktu dan hari yang sama di seluruh negara-negara Islam, karena semua ini bagi musuh-musuh Islam, khususnya negara-negara arogan dunia, lebih berbahaya dari bom dan senjata nuklir. Dunia Islam dan kaum Muslimin terjaga sepanjang pertahanannya dalam menghadapi segala makar mereka dan krisis yang tidak diinginkan untuk selamanya.

Untuk pertama kalinya Imam Musa Shadr menjelaskan hal ini dengan menulis surat yang ditujukan kepada Syaikh Hasan Khalid, Mufti Ahli Sunnah Libanon, pada 27 Rajab 1389 H. bertepatan dengan perayaan bi'tsah Nabi saw.(3) Kemudian pada tahun yang sama di bulan Dzulhijah, ia hadir dalam konferensi tahunan Forum Studi Islam di Kairo. Di hadapan para pemuka terkemuka dunia Islam, ia berpidato panjang lebar mengenai sikap dan usulannya tentang persatuan fiqih dan mengajukan draft yang sudah disusunnya kepada forum (4) yang kemudian disambut secara seksama oleh hadirin. Hingga akhirnya ia didaulat sebagai anggota tetap di forum tersebut.

Dalam sebuah wawancara dengan Majalah "Al-Mushawar" terbitan Kairo, ketika menjawab sebuah pertanyaan tentang persatuan, kembali lagi Imam Musa Shadr menegaskan arti penting persatuan fiqih, "Masalah persatuan ini akan terlaksana setelah berhasil dalam mencapai persatuan fiqih, dan ini tidak akan tercapai hanya melalui dialog formal di antara para pemuka mazhab, karena mazhab terinternalisasi dalam jiwa-jiwa para pengikutnya. Saya menaruh harapan besar pada forum ini yang terbentuk dari para ulama besar dunia Islam dalam tujuan yang sangat penting ini, yaitu persatuan fiqih. Demikian pula Kairo memilki pusat yang strategis di dunia Islam, memiliki peran yang sangat penting dalam upaya pencapaian tujuan ini."(5)

Imam Musa Shadr menggunakan setiap waktu dan kesempatan untuk menyampaikan gagasan ini kepada pemuka mazhab dan politisi dunia Islam. Pada tahun berikutnya, tepatnya pada 19 April 1971, setelah mengikuti kongres VI Forum Studi Islam di Kairo dan bertemu dengan pasukan yang berada di terusan Suez, ia menegaskan poin penting jihad melawan agresor zionis Israel untuk kesekian kalinya dan meneguhkan gagasan persatuan fiqih dalamkerangka "persatuan syiar agama".(6)

Pada tahun 1973 Imam Musa Shadr mengikuti konferensi tahunan Pemikiran Islam di Aljazair. Dalam wawancaranya dengan Majalah Al-Mujahid, ia untuk kesekian kalinya menjelaskan persatuan fiqih sebagai gagasan yang sangat fundamental.(7)

Kemungkinan Persatuan Fiqih
Imam Musa Shadr mengetahui persis bahwa objek studi fiqih adalah perbuatan mukalaf, adapunfiqih adalah teori hidup seorang Muslim dari buaian hingga liang lahat. Oleh karena itu, persatuan hakiki akan tampak apabila dalam masalah fiqih terlihat jelas adanya persatuan. Jika tidak demikian, maka persatuan hanyalah bersifat semu dan formalistis serta tidak akan langgeng. Dia sangat yakin akan persatuan ini dan, pada hematnya, cita-cita ini dapat tercapai. Dalam kongres V Forum Studi Islam, ia mempersembahkan draft susunanya pada para peserta konferensi yang kemudian disambut baik oleh para pemikir, fukaha Syiah dan Sunni dunia Islam. Beberapa tahun sebelumnya, dalam suratnya yang ditujukan pada Syaikh Hasan Kholid, ia menulis:

"Proposal bisa diteliti dan dipelajari lebih jauh, misalnya dalam masalah ru'yat hilal dengan metode baru ilmu dan penentuan sudut melihat hilal pada ufuk dengan berdasarkan ilmu dalam menentukan hari raya, sehingga seluruh kaum Muslimin berhari raya pada hari yang sama dan terhindar dari beragam kesukaran. Lebih jauh lagi, bersilaturahmi pada hari raya pun bisa terhindar dari kesulitan karena adanya perbedaan hari pelaksanaan. Selain itu juga harus diteliti sebuah model adzan yang bisa diterima oleh seluruh pihak.(8)

Persatuan fiqih dalam pandangan Imam Musa Shadr adalah mutiara berharga dimana dalam upaya untuk merealisasikannya di tengah umat Islam. Ia sama sekali tidak pernah ragu. Pada zaman otoritas mutlak sang guru, Ayatullah Burujerdi, ia menyaksikan dari dekat cahaya mutiara tersebut dan melihat sebagian kecil dari arti pentingnya. Berdasarkan hal ini, ia melihat kemajuan dalam persatuan fiqih. Seorang Faqih besar, Ayatullah Burujerdi, yang juga memiliki pandangan positif mengenai persatuan fiqih, mengumpulkan 400 fatwa fiqih dan hukum yang berkenaan dengan masalah manasik haji dari Imam shadiq as. yang dinukil dari Ahli Sunnah, baik dari enam kitab shahih maupun yang lainnya dan diterima oleh kalangan ulama Syiah, kemudian dikirimkan ke raja Arab Saudi sehingga kongres dunia Islam dapat terlaksana secara baik berdasarkan riwayat dan dasar yang sama dan diterima oleh dua kelompok. Tentu saja, yang akan mendapatkan berkah dari manifestasi tauhid ini adalah dunia Islam.(9)

Fatwa dan hukum ini dikirimkan melalui surat dan diterima oleh para pemuka mazhab dunia Islam serta diketengahkan di ruang-ruang pertemuan ilmiah. Isi surat tersebut secara lengkap dimuat dalam Majalah "Risalat Al-Islam", organ Pusat Pendekatan antar Mazhab Islam, serta koran-koran dan majalah-majalah Kerajaan Arab Saudi.(10)

Dalam pandangan Imam Musa Shadr, syarat utama terciptanya persatuan fiqih, pada tahap pertama, adalah semangat dan keinginan dari seluruh kalangan para pemuka mazhab dan pemikir dunia Islam. Apabila para pemuka mazhab Islam percaya akan masalah ini dan berjuang keras di jalannya, maka umat Islam akan segera mendapatkan hasilnya. Oleh karena itu, di bagian terakhir dari suratnya kepada Syaikh Hasan Khalid, ia mengajak seluruh jiwa-jiwa yang hidup dan memiliki niat yang baik agar bekerja sama dan saling membantu dalam rangka menghidupkan nilai-nilai mulia Islam ini.

Kesamaan Orientasi Fiqih dan Kebutuhan Kontemporer
Di tahun-tahun terakhir, tepatnya empat puluh hari terakhir dan permulaan lima puluh hari terakhir, Imam Musa Shadr menegaskan pentingnya persatuan fiqihdan, pada saat dunia terbagi ke dalam dua kutub, Blok Barat dan Blok Timur yang dimotori oleh Amerika dan Uni Soviet, segala kesulitan yang ditutup-tutupi pada masa lalu sampai sekarang pun belum nampak terlihat. Tetapi sekarang, dengan jatuhnya rezim Uni Soviet, dunia menjadi satu kutub. Dan dunia arogan Barat yang dikendalikan oleh Amerika Serikat memaksa seluruh masyarakat dunia untuk mengikutinya. Di sisi lain, dengan kemajuan teknologi dan informasi, satelit dan komputer, dunia tak ubahnya dengan desa kecil, dan dunia Islam hanya mengambil salah satu bagian yang ada di dalamnya. Maka itu, urgensi persatuan fiqih di antara kaum Muslimin dan mazhab dari waktu ke waktu kian tampak jelas.

Sekarang arogansi dunia dan zionis internasional dengan kekuatan penuh merampas kekayaan di berbagai negara Islam baik yang bersifat materiil maupun nonmateril. Oleh karen itu, para pemimpin mazhab dan politisi Islam sudah seharusnya menghindari segala macam anasir perpecahan dan berpikir keras tentang penyebaran budaya persatuan fiqih serta mencari solusi terbaik dalam upaya untuk menjaga kemulian Islam dan kehormatan kaum Muslimin. Hari ini, dengan alasan apa pun, sudah tidak logis menyuarakan perpecahan di dalam rumah kita sendiri; bagaimana gang-gang dan setiap orang atau atau kelompok masing-masing dengan kecendrungannya dan kesimpulanya masing-masing mengamalkan hukum Islam sendiri-sendiri. Hari ini, dunia Islam sedang berperang melawan kemusyrikan, kekufuran dan kemunafikan internasional dan, dalam upaya merekonstruksi kembali peradaban besar Islam, tentunya membutuhkan persatuan hakiki di antara kaum Muslimin. Dan persatuan ini pun hanya akan tercapai dalam koridor persatuan fiqih.

Sangat menggembirakan sekali tatkala di antara para fukaha agung, peneliti dan pakar pendidikan agama (hauzah ilmiyah)Qom, tampak sejumlah dasar-dasar pencapaian persatuan fiqih, selain apa yang sudah dilakukan oleh Ayatullah Burujerdi sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Demikian pula dua orang faqih lainnya, yakni Ayatullah Sayyid Mahdi Ruhani dan Ayatullah Mirza Ali Ahmadi Miyoneji. Kedua faqih ini melakukan penelitian tentang persatuan fiqih hingga mereka mempresentasikan karya ilmiah dalam judul "Ahadits Ahl Al-Bayt ‘an Turuq Ahl Al-Sunnah". Pada hakikatnya, mereka sudah mempersiapkan dan meletakkan dasar-dasar agar para pemikir dan fuqaha generasi baru dan akan datang melakukan sebuah tugas yang lebih fundamental mengenai persatuan fiqih. Jelas, membesarkan dan menghargai jasa mereka tidak lain adalah berusaha melanjutkan dan mengembangkan jalan yang sudah ditempuh oleh mereka. (Abdurrahim Abazari)

Referensi:
1. Makalah ini diterbitkan dalam jurnal ini no. 186, namun karena tuntutan kondisi, maka diterbitkan kembali dalam jurnal edisi baru.

2. Sebagian dari suratnya pada Syaikh Hasan Khalid.
3.Lihat Majalah Surush, no. 161, tahun IV, hlm. 34. Rujuk juga Imam Musa Shadr: Surush-e Wahdat, hlm. 96.
4. Imam Musa Shadr: Surush-e Wahdat, hlm. 106.
5. Isi lengkap dari wawancara ini tertanggal 7/3/1970 dan diterbitkan di koran "Al-Anwar" Lebanon.
6. Lihat Koran Al-Muharrir, Beirut, 20/3/1971.
7. Lihat Koran Al-Mujahid, no. 678, 13 Rajab 1393 HQ dan 1973 M.
8. mam Musa Shadr: Umid-e Mahrumon, hlm. 277.
9. Majaleh Hauzeh, no. 43-44, hlm. 83.
10. Zendeginomeh Ayatullah Burujerdi, Muhammad Wa'idzodeh Khurasani, hlm. 377

Sumber:
www.id.al-shia.org
www.IRIB.Indonesia.ir

  • Print

    Send to a friend

    Comment (0)