• Black
  • perak
  • Green
  • Blue
  • merah
  • Orange
  • Violet
  • Golden
  • Nombre de visites :
  • 150
  • 7/9/2017
  • Date :

Evolusi Manusia dalam Penciptaan

Secara keseluruhan apa yang dapat disimpulkan dengan jelas dari ayat al Al qur`an adalah bahwa manusia pertama-tama adalah tanah kemudian dicampur dengan air dan kemudian menjadi tanah liat (lempung) dan lalu berbentuk “tanah liat yang berbau”, setelah itu memiliki kondisi yang melekat dan rekat lalu menjadi tanah kering dan berbentuk shalshal kalfakhar (tanah tembikar) dan pada akhirnya ditiupkan ruh kepadanya.

evolusi manusia dalam penciptaan

Dan yang dimaksud dengan evolusi manusia dalam penciptaan adalah melintasi tingkatan-tingkatan ini.  Al-Qur’an menyatakan dengan ragam ungkapan terkait dengan penciptaan manusia dan sumber kemunculannya. Hal ini menunjukkan bahwa penciptaan manusia memiliki tingkatan yang berbeda-beda. (Baca Juga: Penciptaan Manusia; Antara Tafsir Maudhu’i dan Tafsir Ilmi)

 

1. Sebagian ayat al-Qur’an memperkenalkan bahwa bahan dasar pertama manusia adalah “tanah.”[1]

 

2. Sebagian lainnya menyebutkan bahwa manusia Kami ciptakan dari “air.”[2]

 

3. Ayat-ayat lainnya menyatakan bahwa sumber penciptaan manusia berasal dari “nutfah” (sperma).[3]

 

4. Sebagian ayat lainnya mengungkapkan “tanah dan sperma” sebagai bahan umum pertama penciptaan manusia..[4]

 

Terdapat dua pendapat sekaitan dengan makna ayat-ayat ini:

Pertama, pada ayat-ayat ini disebutkan tingkatan-tingkatan penciptaan setiap orang secara terpisah: Artinya diciptakannya manusia dari tanah bermakna bahwa tanah berubah menjadi bahan makanan dan bahan makanan berubah menjadi sperma. Dengan demikian, tanah adalah sumber sperma dan sperma adalah sumber manusia. Artinya tanah adalah sumber jauh (ba’id) dan sperma adalah sumber dekat (qarib) penciptaan manusia.

Kedua, karena penciptaan Nabi Adam dari tanah dan penciptaan seluruh manusia berujung dan berpangkal pada Nabi Adam, karena itu sumber pertama penciptaan adalah Adam yang juga merupakan sumber penciptaan manusia lainnya. (Baca Juga: Manusia, Sebab Penciptaan Alam Semesta!)

 

Oleh itu, kendati secara lahir ayat-ayat al-Qur’an terkait dengan penciptaan manusia, memiliki beberapa perbedaan dari beberapa sisi, namun dengan sedikit mencermati dan memperhatikan ayat-ayat tersebut maka akan menjadi jelas bahwa tidak terdapat perbedaan pada ayat-ayat al-Qur’an sehubungan dengan masalah ini, karena sebagian ayat-ayat tersebut berkisah ihwal penciptaan manusia pertama (Adam). Jelas bahwa tatkala sumber penciptaan pertama manusia menjadi terang maka sumber keberadaan manusia-manusia lainnya dari sisi historisnya juga akan menjadi terang. Artinya apabila kita berkata bahwa Adam diciptakan dari tanah maka benar juga tatkala kita nyatakan bahwa seluruh manusia diciptakan dari tanah. Hal ini adalah satu ungkapan. Namun dengan ungkapan lainnya, masing-masing manusia dipandang secara terpisah. Meski ungkapan ini, tidak menafikan ungkapan pertama. Artinya bahwa apabila kita berkata setiap manusia diciptakan dari nutfah (sperma) dan sperma berasal dari bahan-bahan makanan dan bahan-bahan tersebut dari daging-daging hewan, buah-buahan, pepohonan, bahan mineral dan kesemuanya ini berasal dari tanah, karena itu sumber penciptaan setiap manusia, terlepas dari bahwa dapat disebutkan manusia pertama diciptakan dari tanah, juga dapat disebutkan bahwa masing-masing manusia diciptakan dari tanah.

 

Dari sudut pandang ini, sebagian ayat al-Qur’an berkisah tentang Nabi Adam secara personal.[5] Dan sebagian lainnya boleh jadi mengandung pesan universal dan sekaitan dengan seluruh manusia secara general. Allah Swt berfirman, “Maka apabila telah Kusempurnakan penciptaannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)-Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.” (Qs. Shad [38]:72) Demikian juga pada ayat lainnya, Allah Swt berfirman, “Maka apabila Aku telah menyempurnakan penciptaannya, dan telah meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (Qs. Al-Hijr [15]:29)

 

Jelas bahwa dalam ayat-ayat ini, Allah Swt mengemukakan kisah penciptaan Nabi Adam dan enggannya Iblis bersujud kepadanya. Pada ayat-ayat ini kita tidak dapat memaknai Adam sebagai seluruh manusia, karena terkait dengan kisah ini sendiri, Allah Swt berfirman kepada Setan, “Laahtikanna dzurriyatahu” (niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, Qs. Al-Isra [17]:62) Dan apabila seluruh manusia yang dimaksud di sini maka tentu Setan tidak akan berkata “dzurriyatahu” (anak keturunan Adam). Sebagian ayat-ayat yang memiliki dimensi universal dan memuat tentang penciptaan seluruh manusia adalah, “Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu (mempunyai) keturunan dan mushâharah, dan adalah Tuhan-mu Maha Kuasa.” (Qs. Al-Furqan [25]:54) dan “Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan. Dia diciptakan dari air yang terpancar.” (Qs. Al-Thariq [86]:5-6)

 

Ayat-ayat ini dan semisalnya menegaskan bahwa manusia diciptakan dari air atau nutfah (sperma) dan sebagainya. Dalam ayat-ayat semacam ini dijelaskan tentang penciptaan seluruh manusia secara umum.

 

Bagaimanapun apa yang disebutkan pada ayat-ayat al-Qur’an dan ragam ungkapannya tentang penciptaan manusia dapat disimpulkan bahwa manusia pada mulanya adalah tanah[6] kemudian bercampur dengan air lalu berbentuk lempung[7] kemudian menjadi tanah liat yang berbau[8] lalu memiliki kondisi yang lekat dan merekat[9] lalu berubah menjadi tanah liat kering dan shalshala kal fakhkhar (tanah liat tembikar).[10]

 

Terkait bahwa masing-masing dari tingkatan ini, dari sudut pandang waktu, memerlukan waktu berapa lama dan apa saja yang menjadi faktor kemunculan pelbagai kondisi seperti ini merupakan masalah-masalah yang masih misterius bagi kita dan hanya Tuhanlah yang mengetahui semua hal ini.

 

Harap diingat bahwa al-Qur’an menjelaskan ihwal penciptaan manusia secara global dan universal. Karena maksud utama al-Qur’an adalah menjelaskan persoalan-persoalan edukatif dan al-Qur’an bukan merupakan sebuah kitab ilmu alam, melainkan kitab untuk mencetak manusia dan kita tidak dapat berharap banyak bahwa segala hal-hal partikular yang terkait dengan ilmu-ilmu seperti masalah evolusi, anatomi, embriologi dan sebagainya dikaji di dalamnya. Namun hal ini tidak akan menjadi penghalang sesuai dengan pembahasan-pembahasan edukatif terdapat semacam isyarat terhadap bagian-bagian dari ilmu-ilmu ini. [11]

 

Dengan demikian yang dimaksud dengan evolusi manusia dalam penciptaan adalah bahwa manusia melintasi tingkatan-tingkatan ini.

 

Akan tetapi maksud Anda dengan evolusi manusia pada tujuh tingkatan itu tidak jelas, karena dalam al-Qur’an evolusi penciptaan langit dan bumi adalah enam hari[12] dan tingkatan-tingkatan penciptaan manusia di rahim ibu dijelaskan dalam lima tingkatan.[13] Dan pada sebagian riwayat juga dijelaskan bahwa tatkala pembentukan thinat (bahan dasar) manusia terjadi maka air selama tujuh hari dan tujuh malam mengalir ke bumi dan kemudian setelah itu tanah manusia terbentuk[14] dan selain persoalan ini tidak ada yang mengemukakan tentang tujuh hari penciptaan manusia.

 

Adapun tentang enam tingkatan penciptaan harus dikatakan bahwa:

Al-Qur’an menyebutkan penciptaan langit dan bumi selama enam hari[15] akan tetapi apa yang dimaksud dengan hari-hari (ayyam) yang disebutkan dalam al-Qur’an ini, “Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam hari” (Qs. Qaf [50]:38) Apakah yang dimaksud adalah sehari-semalam (24 jam)? Atau berapa lama? Harus dikatakan: Jelas bahwa pada permulaan penciptaan, hari dan malam dalam artian sebenarnya yang diperoleh dari rotasi bumi mengelilingi dirinya dan mengelilingi matahari, tidak memiliki makna, karena waktu itu bumi dan matahari belum lagi diciptakan. Karena itu, kita tidak dapat mengatakan bahwa yang dimaksud “ayyam” di sini adalah masa perputaran bumi mengelilingi dirinya. Meski ekuivalennya (yaitu 24 jam) dapat dipikiran. Namun terkait dengan temuan-temuan ilmiah para ilmuan yang menunjukkan bahwa miliyaran tahun lamanya sehingga bumi dan langit terbentuk seperti dengan formatnya yang sekarang ini. Dan kita tidak mesti memandang bahwa hari (atau ekuivalennya pada bahasa-bahasa lainnya seperti yaum dalam bahasa Arab) itu sebanding dengan 24 jam lamanya. Terkhusus dengan memperhatikan bahwa redaksi hari atau yaum memiliki makna yang luas, dan pada kebanyakan perkara bermakna satu “masa” dan penggalan zaman. Terlepas apakah waktu tersebut pendek atau panjang dan seukuran ribuan atau bahkan miliaran tahun lamanya.[16] 

 

Referensi:

[1]. “Dia-lah Yang menciptakanmu dari tanah.” (Qs. Al-An’am [6]:2); “Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah.“ (Qs. Al-Sajdah [32]:7).

[2]. “Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air.” (Qs. Al-Furqan [25]:54); “Dia diciptakan dari air yang terpancar.” (Qs. Thariq [86]:6).

[3]. “Dia telah menciptakan manusia dari mani (yang tak berharga).” (Qs. Al-Nahl [16]:4); “Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air”, (Qs. Yasin [36]:77); “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur.” (Qs. Al-Insan [76]:2); “Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya (membentuknya tersusun rapi).” (Qs. Abasa [80]:19)

[4]. “Maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari tanah.” (Qs. Al-Hajj [22]:5); “Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes air mani.” (Qs. Al-Ghafir [40]:67); “Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani.” (Qs. Fathir [35]:11); “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?” (Qs. Al-Kahf [18]:37)

[5]. “Maka apabila telah Kusempurnakan penciptaannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)-Ku (Qs. Shad [38]:72); Maka apabila Aku telah menyempurnakan penciptaannya, dan telah meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Ku.” (Qs. Al-Hijr [15]:29)

[6]. “Maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari tanah.” (Qs. Al-Hajj [22]:5)

[7]. “Dia-lah Yang menciptakanmu dari tanah.” (Qs. Al-An’am [6]:2)

[8]. “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam berbau yang diberi bentuk.” (Qs. Al-Hijr [15]:28)

[9]. “Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat.” (Qs. Shaffat [37]:11)

[10]. “Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar.” (Qs. Al-Rahman [55]:14)

[11]. Diadaptasi dari Pertanyaan 731.

[12]. “Sesungguhnya Tuhanmu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa.” (Qs. Al-A’raf [7]:54); “Sesungguhnya Tuhanmu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. (Qs. Yunus [10]:3); “Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa.” (Qs. Hud [11]:7)

[13]. Tafsir Nemune di bawah ayat 12 surah al-Mukminun.

[14]. Bihar al-Anwar, jil. 5, hal. 230. Di antara beberapa hal yang diciptakan Allah Swt adalah bumi kemudian air segar muncul darinya dan wilayah kami (Ahlulbait As) digelar di atasnya. Air menerima wilayah tersebut kemudian mengalirkannya ke bumi selama tujuh hari tujuh malam sehingga penuh dengan air. Kemudian meresap di dalamnya. Allah Swt menciptakan sebaik-baik tanah bumi tersebut, para imam dan dari bawah kami Allah Swt menciptakan para Syiah kami.

[15]. Hal ini disebutkan pada tujuh ayat al-Qur’an. “Sesungguhnya Tuhanmu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa.” (Qs. Al-A’raf [7]:54); “Sesungguhnya Tuhanmu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa.” (Qs. Yunus [10]:3); “Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa.” (Qs. Hud [11]:7); “Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa.” (Qs. Al-Furqan [25]:59); “Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa.” (Qs. Al-Sajdah [32]:4); “Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam hari” (Qs. Qaf [50]:38); “Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa.” (Qs. Al-Hadid [57]:4)

[16]. Diadaptasi dari Pertanyaan 515.

 

Sumber:
www.id.al-shia.org

 

 

  • Print

    Send to a friend

    Comment (0)