• Black
  • perak
  • Green
  • Blue
  • merah
  • Orange
  • Violet
  • Golden
  • Nombre de visites :
  • 121
  • 24/5/2017
  • Date :

Doktor Fathimah Thabathabai Mengisahkan Tentang Imam Khomeini ra (1)

Meski Imam Khomeini sangat mencintai putranya Ahmad Agha, dan beberapa tahun telah jauh darinya, namun beliau lebih mendahulukan salat tahajudnya. Saya selanjutnya memahami bahwa ini karena kecintaan beliau yang sangat besar pada salat. Ciri khas lainnya Imam Khomeini yang saya pahami sejak awal adalah keteguhannya, yakni semua pekerjaanya dilakukan secara tertib dan teratur.

doktor fathimah thabathabai mengisahkan tentang imam khomeini ra (1)

Keluarga saya sejak dulu sudah kenal dengan keluarga Imam Khomeini. Karena ayah saya dan Imam Khomeini, keduanya sama-sama sebagai pengajar di hauzah ilmiah Qom. Tentunya, karena istri Agha Eshraghi; putri sulung Imam Khomeini adalah menantu salah satu famili ibu saya, dari sisi ini kami punya hubungan dengan keluarga mereka. Imam Khomeini sangat simpati pada ayah saya, terkadang kepada saya beliau berkata:

 

“Betapa senangnya engkau, punya ayah seperti ini.”

 

Tapi saya tidak pernah bertanya mengapa dan apa tolok ukur Anda. Tentunya terkadang beliau juga menyebutkan beberapa poin. Tapi beliau benar-benar menghormati dan menyayanginya. Setiap kali ayah saya datang dari Qom ke rumah saya, Imam Khomeini mengatakan:

 

“Kapan saya bisa datang untuk menemuinya?”

 

Saya katakan, “Kapan saja Anda mau, silahkan datang.”

 

Yakni di awal-awal kedatangannya, Imam Khomeini ra ingin datang menemuinya. Tapi bila karena untuk menghormatinya, beliau mengatakan, mungkin baru datang dan masih lelah. Kesimpulannya, beliau sangat ingin menemui ayah saya di awal-awal kedatangannya. Ketika datang menemui ayah saya pun, beliau duduk di sampingnya dan berbincang-bincang dengannya dan berkata kepada saya:

 

“Layani dengan baik ayahmu. Penuhi semua keperluannya, baik dari sisi makanan maupun jamuan.”

 

Kemudian beliau pergi. Setelah satu atau dua hari lagi, beliau kembali mengatakan:

 

“Saya ingin datang untuk menemui ayah [mu].”

 

Saya katakan, “Baiklah, silahkan.”

 

Kemudian saya sampaikan kepada ayah bahwa Imam Khomeini mau datang. Ayah bangkit memakai baju dan sorbannya. Ini semua karena untuk menghormati Imam Khomeini. Ketika Imam Khomeini datang, kepada ayah saya beliau berkata:

 

“Silahkan duduk secara nyaman, sebagaimana saya juga merasa nyaman datang menemui Anda.”

 

Ayah berkata, “Tidak. Saya merasa nyaman.”

 

Imam Khomeini berkata:

 

“Tidak. Begini ini menyulitkan [Anda].”

 

Ayah selalu komitmen untuk menyambut Imam Khomeini di depan pintu dan mengiringinya [saat pergi]. Imam Khomeini selalu meminta agar ayah tidak melakukan hal ini dan berkali-kali mengatakan:

“Jangan lakukan hal ini. Tetaplah duduk. Saya datang menemui Anda dan saya akan pergi.”

 

Ayah tentunya tidak mendengarkannya dan tetap bangkit, memakai sorbannya dan gamisnya. Bila beliau tahu bahwa Imam Khomeini datang, beliau segera menyambutnya di depan pintu. Dari sisi lain, Imam juga demikian, agar tidak menyulitkan ayah, beliau tiba-tiba saja sudah ada di depan pintu supaya ayah tidak bangkit. Supaya tidak sulit bagi ayah. Beliau benar-benar menyayangi ayah dan mengatakan:

 

“Dulu ketika saya pergi ke kamar mandi umum, ayahmu juga datang ke kamar mandi dengan membawa dua anak kecil.”

 

Keadaan seperti ini bagi Imam Khomeini sangat bagus dan beliau mengatakan:

 

“Sosok seperti Agha Soltani, seorang pengajar hauzah ilmiah Qom dan semua orang menyeganinya, tanpa melihat semua ini, membawa dua anak kecil ke kamar mandi umum dan duduk memandikan mereka. Beliau berhati-hati jangan sampai sabun masuk ke mata mereka.”

 

Imam Khomeini beberapa kali menceritakan keadaan ayah dan mengatakan:

 

“Saya melihat, ayahmu sedang duduk memandikan dua anak kecil ini tanpa memperhatikan orang lain. Dia mendongakkan kepada mereka dan menyiramkan air di bagian belakang kepala mereka dan menyabunnya. Dia sangat perhatian pada dua anak ini, kemudian membasuhkan dan membawanya keluar dari kamar mandi.”

 

Tampaknya, ketawadhuan ayah ini sangat menarik bagi Imam Khomeini. Karena setelah menceritakan semua itu, beliau berkata:

 

“Ayah yang sangat baik. Betapa senangnya engkau punya ayah seperti ini.”

 

Saya menikah pada tahun 1349 HS. Pada tahun 1352 HS saya ke Irak bersama suami dan anak saya yang masih berusia sembilan bulan. Pertengahan malam kami sampai di rumah Imam Khomeini. Beliau sendiri yang membukakan pintu. Beberapa menit beliau menanyakan kabar, kemudian memulai salat tahajudnya. Hal ini sangat menakjubkan bagi saya. Salat tahajud tidak wajib dan beliau bisa melakukannya agak terlambat. Meski Imam Khomeini sangat mencintai putranya Ahmad Agha, dan beberapa tahun telah jauh darinya, namun beliau lebih mendahulukan salat tahajudnya. Saya selanjutnya memahami bahwa ini karena kecintaan beliau yang sangat besar pada salat.

 

Ciri khas lainnya Imam Khomeini yang saya pahami sejak awal adalah keteguhannya, yakni semua pekerjaanya dilakukan secara tertib dan teratur.

 

Setelah beberapa hari tinggal di rumah beliau, saya sudah tahu sepenuhnya kegiatan beliau setiap saat. Saya tahu jam berapa, hanya dengan melihat beliau saja. Sekali saya bertanya kepada istri beliau, tentang kegiatan sehari-hari Imam Khomeini. Dikatakan, “Bila aku sampaikan kegiatan sehari Imam Khomeini, engkau bisa mengalikannya dengan 360.”

 

Karena Imam Khomeini sepenuhnya mengerjakan pekerjaannya sesuai dengan jadwal yang ada, beliau juga banyak memberikan wejangan kepada saya tentang masalah ketertiban dan keteraturan.

 

Saya tidak tahu banyak masalah. Dengan melihat amalan-amalan Imam Khomeini dan menanyakan pada beliau, saya baru tahu kalau apa yang dikerjaannya itu adalah hal-hal mustahab. Misalnya, beliau setiap kali mau ke kamar mandi, beliau mengambil kopyah di ruangan tingkat atas dan memakainya, padahal suhunya sangat panas di saat musim panas. Kemudian saya memahami bahwa masuk ke kamar mandi atau toilet dengan kepala terbuka hukumnya makruh. Terkadang untuk mengambil kopyah harus melewati tiga puluh tangga. Saya masih ingat bahwa toilet yang ada di halaman sangat kecil. Ketika berwudhu, beliau harus menempatkan dirinya di sudut toilet. Kemudian saya baru memahami bahwa beliau harus menghadap kiblat ketika berwudhu. Atau ketika mau keluar dari rumah, beliau pasti melihat dulu wajahnya di depan cermin kecil di ujung halaman. Beliau juga melarang kami untuk tidak mengerjakan hal-hal yang makruh. Misalnya ketika kami tertawa dengan suara keras, beliau mengatakan:

 

“Jangan tertawa demikian. Tertawa dengan suara keras hukumnya makruh.” (Emi Nur Hayati)

Dikutip dari penuturan Doktor Fathimah Thabathabai, menantu Imam Khomeini; istri Sayid Ahmad Khomeini

 

Sumber:
www.parstoday.com
Pa be Pa-ye Aftab; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh

  • Print

    Send to a friend

    Comment (0)