• Black
  • perak
  • Green
  • Blue
  • merah
  • Orange
  • Violet
  • Golden
  • Nombre de visites :
  • 59
  • 22/5/2017
  • Date :

Alam imaginal (alam ide) menurut Ibnu Sina, Syaikh Isyraq dan Mulla Sadra

Pertanyaan: Tolong Anda jelaskan tentang alam imaginal (alam ide) menurut pandangan Ibnu Sina, Syaikh Isyraq dan Mulla Sadra ?

alam imaginal (alam ide) menurut ibnu sina, syaikh isyraq dan mulla sadra

Jawaban Global

Syaikh Isyraq meyakini bahwa alam imaginal (alam ide) atau mitsal merupakan sebuah tingkatan dari alam eksistensi yang berasal dari bahan non-material namun tidak berefek. Artinya bahwa alam imaginasi terletak pada sebuah tingkatan antara alam empirik dan alam rasional, atau antara alam non-materi dan alam materi. Atas dasar itu alam imaginasi memiliki tipologi dari dua alam non-materi dan alam materi.

 

Mulla Sadra meyakini bahwa alam imaginasi adalah alam yang terdiri dari substansi non-material badan dan alam ini (materi) namun ia bukan non-material yang bersifat rasional, melainkan sebuah entitas dalam alam pencerapan partikular dan sebuah domain substansial yang tidak berdiri pada materi dan penampakan yang lain; bahkan ia merupakan sebuah alam eksternal yang mandiri yang wujud eksternalnya, identik dengan intelegensi, pencerapan dan bentuk imaginal yang tidak membutuhkan keberadaan materi jasmani untuk kehadiran dan kekekalannya, melainkan hanya laksana seperti cermin khusus yang menyediakan jiwa untuk merefleksikan bentuk-bentuk pada alam khusus pencerapan dan menjadi ruang yang menyediakan gambaran ini bagi jiwa.

 

Syaikh al-Rais Ibnu Sina menampik dan mengingkari keberadaan alam imaginal (alam ide). Ia meyakini bahwa mustahil bentuk, forma, ukuran dapat terwujud dan terealisir tanpa adanya materi.

 

Jawaban Detil

Alam imaginal (mundus imaginalis) bukanlah fakultas imaginasi (yang merupakan salah satu tingkatan indra dan pencerapan empirik). Tidak terdapat perbedaan di antara para filosof dalam mendefinisikan fakultas imaginasi ini; namun terkait dengan definisi alam imaginal terdapat perbedaan di antara filosof Peripatetik dan filosof Iluminasionis. Artinya bahwa sejatinya para filosof berkata-kata tentang sesuatu yang lain bernama alam imaginal, alam ide atau alam khayal, di samping forma-forma imaginal dan fakultas imaginasi yang merupakan salah satu fakultas intrinsik yang diterima oleh seluruh filosof.

 

Dengan pendahuluan ini, kita akan membahas secara selintasan tentang alam imaginal dalam perspektif Syaikh Isyraq, Ibnu Sina dan Mulla Sadra.

 

Alam Imaginal dalam Perspektif Syaikh Isyraq:

Syaikh Isyraq (Syihabuddin Suhrawardi) meyakini bahwa dalam sistem eksistensi, di samping alam-alam akal, jiwa dan materi yang juga diyakini oleh para filosof Peripatetik, terdapat alam lainnya yang disebut sebagai alam imaginal atau alam khayal atau mutsul (forma-forma) mu’allaqah (bergantung).

 

Syaikh Isyraq berkata, “Alam imaginal (alam ide) atau mitsal merupakan salah satu tingkatan dari alam eksistensi yang berasal dari bahan non-material namun tidak memiliki efek. Artinya alam imaginal terletak pada sebuah tingkatan antara alam empirik dan alam rasional, atau antara alam non-materi dan alam materi. Atas dasar itu alam imaginal memiliki tipologi dari dua alam non-materi dan alam materi. Satu entitas disebut entitas imaginalis atau mitsali adalah sebuah entitas, selagi ia memiliki kualitas, kuantitas demikian juga wadah dan aksiden-aksiden lainnya, serta berbahan non-materi.[1]

 

Syaikh Isyraq meyakini bahwa melintasi dan melewati alam fisikal (empirik) menuju alam rasional tidak mungkin dapat terwujud tanpa adanya perantara. Karena itu, harus terbentang sebuah alam di antara dua alam ini yang di samping memiliki tipologi empirik dan indrawi juga memiliki tipologi-tipologi rasional. Syaikh Isyraq menyebut alam terminal ini sebagai mitsal atau khayal (imaginalis) yang pada tingkat kognisi, sesuai dengan pencerapan imaginalis, terletak antara pencerapan empirik dan pencerapan rasional; artinya Syaikh Isyraq forma-forma imaginalis adalah forma-forma yang berdiri sendiri dan memandangnya tidak mendiami ruang dan waktu, melainkan forma-forma ini terdapat pada alam eksternal di luar jiwa.

 

Menurut Syaikh Isyraq, forma-forma imaginalis tidak terdapat pada alam mental (internal, benak) juga tidak terdapat pada alam eksternal, melainkan terletak pada alam imaginalis atau khiyâl munfasil.[2] Dengan kata lain, forma-forma imaginalis ada dan terealisir namun bukan pada alam ekstrenal dan alam internal (pikiran). Forma ini juga tidak memiliki eksistensi pada alam ‘uqul (plural akal); karena pada alam ‘uqul mustahil terdapat dimensi, kuantitas dan kualitas. Karena itu harus dikatakan bahwa forma-forma imaginalis memiliki tempat pada alam lainnya yaitu alam imaginalis atau khiyâl munfasil.

 

Syaikh Isyraq menilai adanya alam imaginal disebabkan oleh sebagian ‘uqul mutakaifah yang disebut sebagai ‘uqul ‘ardhiyah. Pada alam imaginal, diterima adanya tamattsul (kesamaan) forma-forma substansial dan nampak dalam pelbagai bentuk yang beragam; karena perbedaan bentuk dan corak pada alam imaginal atau mitsal tidak akan menciderai kesatuan syakhshiyah (personal) sebuah akivitas substansi. Misalnya tatkala sekelompok orang mengkaji sosok yang bersejarah, gambaran-gambaran mereka terhadap sosok yang bersejarah ini tidak sama dan tidak ekual, namun masalah ini juga merupakan masalah pasti bahwa seluruh orang ini berbicara tentang seseorang yang bersejarah tertentu dan gambaran-gambaran beragam mereka tidak akan menciderai sosok pribadi yang bersejarah ini.

 

Karena itu bentuk-bentuk beragam dan format-format yang variatif sesuatu tidak bertentangan dengan kesatuan substansinya dan sesuatu dapat menjelma dalam beberapa forma yang beragam.[3]

 

Alam Imaginalis dalam Perspektif Mulla Sadra

Sadra berkata khayal berada di luar common sense (indra bersama); karena khayalan merupakan penjaga forma-forma sedangkan common sense adalah fakultas penerima forma-forma.

 

Menurut Mulla Sadra alam imaginal adalah substansi non-materi dari badan dan alam ini namun ia bukan non-materi yang bersifat rasional melainkan sebuah entitas yang terdapat pada alam pencerapan partikular dan satu domain substansial yang tidak berdiri pada materi dan penampakan lainnya, melainkan terletak pada satu alam eksternal yang mandiri yang wujud eksternalnya identik dengan intelegensi, pencerapan dan forma-forma imaginalis yang tidak membutuhkan keberadaan materi jasmani untuk kehadiran dan kekekalannya, melainkan hanya seperti cermin khusus yang menyediakan jiwa untuk merefleksikan bentuk-bentuk pada alam khusus pencerapan dan menjadi ruang yang menyediakan gambaran ini bagi jiwa.[4]

 

Karena itu, terdapat alam lain selain alam natural dan gerakan yang dalam pandangan Sadra kondisi-kondisi pahala, ganjaran, hukuman, barzakh urusannya kembali pada alam ini.

 

Dalam pandangan Mulla Sadra khiyal munfashil dengan satu ungkapan dapat disebut sebagai alam mitsal sebagai bandingan dari khiyal muttashil (dalam pandangan Syaikh Isyraq).[5]

 

Alam Imaginalis dalam Perspektif Ibnu Sina (Peripatetik):

Di antara filosof Islam, para filosof aliran Peripatetik, khususnya Ibnu Sina menolak dan mengingkari adanya alam imaginalis. Ia meyakini bahwa mustahil bentuk, forma, ukuran dapat terwujud tanpa adanya materi.

 

Ibnu Sina dalam Ilahiyyât al-Najat berkata, “Bentuk-bentuk jasmani qua bentuk-bentuk jasmani tidak menerima adanya perbedaan. Karena itu tidak boleh sebagiannya berdiri pada materi dan sebagian lainya tidak berdiri pada materi; karena mustahil tabiat sesuatu tidak menerima perbedaan apa pun dari sisi kuiditasnya namun pada wadah eksistensinya menerima perbedaan; karena keberadaan satu tabiat juga adalah satu. Dari sisi lain, keberadaan tunggal tabiat ini dan bentuk jasmani ini tidak keluar dari tiga kondisi: apakah ia harus berada pada materi atau di luar materi, atau sebagiannya pada materi dan sebagian lainnya bukan pada materi; adapun sebagiannya pada materi dan sebagian lainnya tidak pada materi tidak mungkin dapat terwudju; karena kita memandangnya sebagai sebuah hakikat tunggal tanpa adanya sedikit pun perbedaan. Karena itu seluruh hakikat harus berdiri pada materi atau kesemuanya tidak membutuhkan materi, karena seluruh hakikat ini membutuhkan materi maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa seluruhnya berdiri pada materi.[6]

 

Referensi:

[1]. Ghulam Husain Ibrahimi Dinani, Syu’âh Andisyeh wa Syuhud dar Falsafeh Suhrawardi, hal. 363, Intisyarat-e Hikmat, Teheran, Cetakan Kelima, 1379 S.

[2]. Quthbuddin Syirazi, Mahmud bin Mas’ud Kazruni, Syarh Hikmat al-Isyraq Suhrawardi, disusun oleh Abdullah Nurani dan Mahdi Muhaqqiq, hal. 450, Anjuman-e Atsar wa Mafakhir Farhanggi, Teheran, Cetakan Pertama, 1383 S.

[3]. Syu’âh Andisyeh wa Syuhud dar Falsafeh Suhrawardi, hal. 364.

[4]. Mulla Sadra, al-Hâsyiah ‘ala al-Ilahiyyât, jil. 1, hal. 138.

[5]. Sayid Ja’far Farhanggi, Farhang Isthilâhât  Falsafi Mullâ Sadra, hal. 232 dan 233, Wizarat-e Farhang wa Irsyad Islami, 1379 S; Mulla Sadra, Mabdâ wa Ma’âd, Terjemahan Persia oleh Muhammad Husain Ardakani, Cetakan Teheran, hal. 474 – 476.

[6]. Syaikh al-Rais Ibnu Sina, al-Ilahiyyat Najat, Maqalah Awwal, Fashl Panjum, Terjemahan Persia oleh Dr. Yatsrabi, hal. 39 dan 40.

 

Sumber:
www.islamquest.net

  • Print

    Send to a friend

    Comment (0)