• Black
  • perak
  • Green
  • Blue
  • merah
  • Orange
  • Violet
  • Golden
  • Nombre de visites :
  • 24
  • 23/3/2017
  • Date :

Mengenal Masjid Suci Jamkaran di Qom Iran

Masjid Jamkaran terletak tak jauh dari kota suci Qom, hari demi hari tempat yang satu ini  selalu menyambut para penziarahnya yang datang tidak hanya dari seluruh penjuru Negeri Mullah Iran bahkan dari berbagai pelosok dunia.

mengenal masjid suci jamkaran di qom iran

Masjid ini mendapat perhatian yang istimewa dari Imam Zaman as dan beliau sendiri mengharap para syiahnya untuk memuliakannya, karena tanah ini adalah tanah yang mulia yang dipilih oleh Allah SWT. Oleh karena itu tidak berlebihan jika para penziarah menikmati dan merasakan berkah tempat ini melebihi tempat-tempat yang lain, dan hendaknya para penziarah tidak kehilangan rasa khusu’nya akibat masalah-masalah sepele dan sampingan. Dan yang lebih penting mereka harus sadar dan merasa kalau sedang berada di hadapan dan pantauan Imam Zaman as, begitu juga seyogyanya mereka menjauhi perbuatan-perbuatan  yang dapat menyakiti hati lembut beliau as.

Perlu disebutkan di sini bahwa para ulama dan pecinta beliau telah mereguk anugerah dan berkah yang tidak sedikit dari masjid suci ini. Oleh karena itu pergunakanlah detik demi detik yang penuh berharga di tempat ini dengan munajat dan doa, dan jangan sampai lupa untuk memperbanyak doa kemunculan beliau. Karena tanpa diragukan lagi segala problematika akan segera lenyap jika beliau as berkenan muncul di atas dunia.

Asal Muasal Pembangunan Masjid Suci Jamkaran

Syekh Hasan bin Mitslih Jamkarani mengatakan:”Di malam selasa tanggal 17 bulan Ramadhan tahun 373 hijriyah, saat aku tidur di rumah, tiba-tiba aku dibangunkan oleh sekelompok orang yang berbondong-bondong datang menuju rumahku, seraya berteriak-teriak: bangkit dan sambutlah kedatangan Imam dan pemimpinmu beliau menanti dan menunggu kehadiranmu” mereka membawaku menuju tempat yang sekarang menjadi masjid Jamkaran, saat aku tiba di sana aku melihat sebuah tempat duduk dengan permadani yang terhampar luas, di atasnya seorang pemuda berumur sekitar 30 tahunan dengan ditemani seorang tua yang dia adalah Hidhir as sedang duduk dan menunggu kedatanganku, Hidhir as memerintahkanku untuk duduk.

Saat aku duduk Imam Mahdi as memanggil namaku dan bersabda: pergi dan katakan pada Hasan Muslim (ia seorang petani yang bercocok tanam di tempat tersebut) untuk tidak lagi bercocok tanam di sini, karena Alah SWT telah memilih tempat ini dari tempat-tempat yang lain. Aku memberanikan diri untuk bertanya: wahai Imam perlukah aku membawa bukti dan tanda, karena aku takut masyarakat tidak akan mempercayai ucapanku. Imam menjawab: kerjakanlah apa yang telah aku perintahkan tadi, nanti aku sendiri yang akan memberikan tanda bukti tersebut, dan lagi katakan pula kepada Sayyid Abul-Hasan (salah satu ulama kota qom saat itu) untuk memanggil Hasan Muslim dan mengambil keuntungan beberapa tahun cocok tanamnya yang diperolehnya dari tanah ini, dan katakan padanya untuk membangun sebuah masjid dengan keuntungan tersebut. Saat aku ingin melangkahkan kaki, terdengar beliau as memanggilku kembali seraya bersabda:”Beli dan bawalah seekor kambing di daerah kasyani lalu sembelihlah dan sedekahkan dagingnya kepada orang-orang sakit, dan insya Allah setiap orang sakit yang memakan daging tersebut akan disembuhkan oleh Allah SWT.

Hasan bin Mitslih Jamkarani berkata, ”Aku kembali ke rumah, sepanjang malam aku tidak dapat tidur, sampai azan subuh menjelang, aku pergi menemui Ali al-Mundir dan kuceritakan peristiwa yang menimpaku tadi malam padanya, ku bawa dia menuju tempat kejadian yang ternyata di sana terdapat rantai di area yang harus dibangun sebuah masjid.

Kemudian aku pergi ke kota Qom  untuk menemui Sayyid Abu-Hasan, ketika aku hampir mengetuk rumahnya, pelayannya muncul dan bertanya padaku: apakah tuan berasal dari Jamkaran? Aku mengiyakan pertanyaanya tersebut, diapun menimpali jawabannku: oh ya tuan, sayyid sudah dari tadi subuh menanti kedatangan tuan. Tanpa pikir panjang aku memasuki rumah sayyid, di sana aku dihormati olehnya dengan penghormatan yang luar biasa, dia berkata; wahai Hasan bin Mitslih dalam tidurku aku mendengar suara seseorang yang berkata: ada seseorang dari Jamkaran akan datang menemuimu, percayailah apa yang dia katakan, ucapannya adalah ucapanku juga dan jangan sekali-sekali engkau menolak ucapannya. Semenjak aku terjaga sampai sekarang tidak merasa ngantuk lagi dan selalu aku nanti kedatanganmu.

Saat itu aku melihat waktu yang amat tepat untuk memberitahukan peristiwa tadi malam yang aku alami. Spontan setelah mendengar ceritaku, sayyid memerintahkan untuk mengantarkanku ke peternakan Ja’far kasyani, saat aku tiba di sana ada sebuah kambing yang berlari menuju ke arahku, Ja’far mengatakan kalau kambing tersebut bukan miliknya dan belum pernah dilihatnya sebelumnya, al-hasil ku bawa kambing tersebut ke area masjid lalu ku sembelih di sana kemudian aku laksanakan perintah Imam untuk membagikan dagingnya kepada para orang yang sakit yang dengan inayah Allah SWT akhirnya mereka semua sembuh dari penyakit yang mereka derita.

Abul-hasan mendatangkan Hasan Muslim dan meminta keuntungan pertaniannya selama ini untuk dana pembangunan. Kemudian rantai dan paku-paku yang berserakan di sana dibawanya ke Qom, dan berkah Allah SWT setiap orang sakit yang diolesi rantai tersebut sembuh dari sakitnya. Sayang seiring dengan kematian sayyid Abul-Hasan rantai tersebut juga lenyap dan tidak ada satu orangpun yang melihatnya lagi.

Shalat Imam Zaman as

Katakan kepada masyarakat untuk mencintai dan memuliakan tempat suci ini – Masjid Jamkaran-, dan kerjakanlah shalat  4 rakaat di sana.

Dua Rakaat Pertama

Dengan niat shalat tahiyatul masjid di masing-masing rakaat setelah selesai membaca surat Fatihah bacalah surat Ikhlas sebanyak 7 kali, dan di setiap ruku’ dan sujud bacalah tasbih sebanyak 7 kali.

Dua Rakaat Kedua

Dengan niat shalat untuk Imam Zaman as, di saat membaca surat al-Fatihah dan ketika sampai pada ayat اياك نعبد و اياك نستعين hendaknya ayat ini diulang sebanyak 100 kali, lalu melanjutkan sisa ayat surat Fatihah, kemudian membaca surat Ikhlas sekali, lalu dalam ruku’ membaca سبحان ربى العظيم و بحمده sebanyak 7 kali, kemudian sujud dengan membacaسبحان ربى الاعلى و بحمده juga sebanyak 7 kali, dan begitulah rakaat kedua juga kita ulang hal yang sama. Saat shalat selesai hendaknya membaca لا اله الا الله sekali lalu membaca tasbih Fatimah Zahra’ lalu sujud dan membaca shalawat kepada nabi dan keluarganya sebanyak 100 kali.

Kemudan Imam bersabda: barangsiapa menunaikan 2 rakaat tersebut di tempat ini, maka dia seperti melakukannya di dekat ka’bah mukaramah.

Sumber:
www.portal-tebyan.net
www.old-tvshia.com
[Dirangkum dari buku Najmu Tsaqib halaman 383-388]

  • Print

    Send to a friend

    Comment (0)