• Black
  • perak
  • Green
  • Blue
  • merah
  • Orange
  • Violet
  • Golden
  • Nombre de visites :
  • 30
  • 18/3/2017
  • Date :

Hadith Dan Kedudukannya Dalam Madzhab Syiah

Sungguhpun banyak sekali kajian ilmiah telah dilakukan sejak abad ke-19 lagi, serta analisis-analisis dan penterjemahan-penterjemahan telah dibuat terhadap berbagai sumber keislaman, namun sejauh ini sangat sedikit sekali perhatian diberikan kepada himpunan sabda, khutbah, doa, ungkapan dan pengajaran keagamaan Syiah Imamiyyah.

hadith dan kedudukannya dalam madzhab syiah

Memang benar, banyak dari kandungan himpunan hadith Syiah sama dengan kandungan dari kandungan himpunan hadith Ahlus Sunnah. Dengan demikian, jika himpunan hadith Ahlus Sunnah dikaji, maka himpunan hadith Syiah pun secara langsung telah tergarap. Mengingat bahwa hadith-hadith syiah memiliki bentuk, gaya, dan bauan khas, maka kajian tidak langsung terhadap kandungannya tidak akan dapat menggantikan kedudukan penterjemahan dan kajian langsung terhadap hadith-hadith itu sendiri.

Memang agak mengherankan, sungguhpun hadith-hadith Syiah mempunyai kedudukan yang penting sekali dalam perkembangan hukum dan ilmu kalam, maka Syiah maupun banyak bidang ilmu keintelektual (al-‘ululmul aqliyyah), belum lagi peranannya dalam ketaqwaan dan kehidupan rohaniah, hingga kini sabda-sabda para Imam Syiah belum diterjemahkan. Sabda-sabda tersebut juga belum dikaji sebagai suatu himpunan khas sumber ilhami keagamaan dalam konteks umum Islam itu sendiri.

Kepustakaan hadith Syiah mencakup semua sabda Rasulullah Saww dan dua belas Imam, dari Ali bin Abi Talib sampai al-Mahdi. Dengan demikian, setelah al-Qur’an, hadith-hadith ini dipandang sebagai himpunan terpenting nash keagamaan bagi kaum Syiah. Seperti halnya dalam Ahlus Sunnah, bersama-sama al-Qur’an, hadith-hadith ini juga membentuk dasar semua ilmu keagamaan dalam segi intelektual mahupun ibadahnya. Tidak satu pun segi kehidupan dan sejarah kaum Syiah yang dapat dimengerti tanpa mempertimbangkan tulisan-tulisan ini.

Yang khas pada himpunan hadith Syiah adalah, sungguhpun merupakan bagian dari asas Islam, “susunannya” merentang selama lebih dari dua abad. Dalam Ahlus Sunnah, hadith merupakan sabda Rasulullah Saww. Menggunakan istilah hadith dalam Ahlus Sunnah berarti merujuk kepada hanya sabda Rasulullah Saww sedangkan dalam Syiah, sungguhpun hadith Nabi dan hadith para Imam dibedakan dengan jelas, keduanya merupakan satu himpunan yang tunggal. Hal ini bermaksud bahwa dari sudut pandangan tertentu, masa kerasulan dilihat oleh Syiah sebagai merentang melebihi kelaziman masa para rasul yang relatif singkat dalam berbagai agama.

Alasan sudut pandangan ini tentu saja terletak pada konsepsi Syiah tentang Imam. Istilah “imam”, sebagaimana digunakan secara teknis dalam Syiah, berbeza dengan penggunaan umum istilah itu dalam bahasa Arab, yang bermaksud “pemimpin”, atau, dalam teori politik Ahlul Sunnah, yang bermaksud khalifah itu sendiri. Digunakan secara teknis dalam Syiah, istilah itu merujuk kepada orang yang memiliki dalam dirinya “cahaya Muhammad” (al-nur al-Muhammadi) yang diturunkan melalui Fatimah, putri Rasulullah Saww, dan Ali, Imam pertama, kepada Imam-imam lainnya sampai al-Mahdi. Akibat adanya “cahaya” ini, Imam dipandang sebagai “suci” (maksum) dan memiliki pengetahunan sempurna tentang tatanan lahiriah maupun batiniah.

Para Imam adalah seperti serangkaian cahaya yang memancar dari “Matahari Kenabian” dan tidak pernah terpisah dari Matahari itu. Sedangkan Matahari itu merupakan asal-usul serangkaian cahaya itu. Apa pun yang mereka katakan berasal dari khazanah kearifan itu karena mereka merupakan suatu rantai dari realitas batiniah Rasulullah Saww, maka sebenarnya kata-kata merupakan kata-kata Nabi Saww.

 Itu sebabnya sabda-sabda mereka dipandang oleh Syiah sebagai suatu kesinambungan dari sabda-sabda Nabi, tepat seperti cahaya kemaujudan mereka dipandang sebagai kelanjutan cahaya kenabian. Dalam pandangan Syiah, keterpisahan sementara para Imam dari Nabi Saww sama sekali tidak mempengaruhi ikatan zat dan batiniah mereka dengan Nabi Saww, ataupun kelanjutan “cahaya kenabian yang merupakan sumber pengetahuan ilhami Nabi sendiri dan para Imam.

Konsepsi metafizikal ini merupakan alasan mengapa kaum Syiah menjadikan hadith-hadith para Imam, yang terungkap selama lebih dari dua abab, dengan hadith-hadith Nabi Saww itu sendiri sebagai satu keseluruhan tunggal. Hai ini juga membedakan antara konsepsi Syiah dan Ahlus Sunnah tentang hadith. Sebenarnya kandungan hadith dalam himpunan-himpunan Ahlus Sunnah dan Syiah adalah sangat mirip. Namun keduanya menyoroti realitas rohaniah yang sama. Tentu saja rangkaian perawian yang diterima oleh dua madzhab ini tidaklah sama. Sungguhpun para perawi sabda-sabda Nabi Saww berbeda, sebenarnya hadith-hadith yang dicatat oleh sumber Ahlus Sunnah dan Syiah banyak sekali persamaannya. Perbedaan utamanya adalah karena Syiah berpandangan bahwa para Imam merupakan kelanjutan dari kewujudan Nabi Saww dan kerana itu sabda-sabda para Imam merupakan pelengkap sabda-sabda Nabi Saww.

Dalam banyak hal, hadith-hadith para Imam bukan saja sebagai kelanjutan tetapi juga sebagai pengulas dan penjelas terhadap hadith-hadith Nabi Saww, dan sering bertujuan menyingkapkan ajaran-ajaran mutasyabihah dalam Islam. Banyak dari hadith-hadith ini, seperti hadith-hadith Nabi Saww, membahas segi-segi praktis kehidupan dan syariat. Dan banyak pula yang membahas metafizika-metafzika murni sebagaimana juga dibahas oleh sebahagian hadith Nabi Saww khususnya hadith-hadith qudsi. Di samping itu hadith-hadith lain para Imam juga membahas sudut-sudut ibadah dan mengandungi beberapa do’a termasyhur yang telah diucapkan selama berabad-abad oleh Ahlus Sunnah maupun Syiah. Sebahagian hadith itu membahas berbagai ilmu batiniah. Dengan demikian, hadith-hadith itu meliputi masalah-masalah duniawi dalam kehidupan seharian dan masalah makna kebenaran itu sendiri. Disebabkan oleh sifat hadith-hadith itu dan juga kenyataan bahawa seperti tasawuf, hadith-hadith itu maujud dari dimensi batiniah Islam,maka hadith-hadith itu telah berbaur selama beradab-abad dengan jenis-jenis tertentu tulisan kesufian. Mereka juga telah dipandang sebagai esoterisisme (kebatinan) Islam oleh kaum sufi, kerana para Imam itu dipandang oleh kaum sufi sebagai kutub-kutub rohaniah, pada masa mereka. Mereka wujud dalam silsilah rohaniah berbagai tarekat kesufian dan malah tarekat-tarekat yang telah tersebar hanya di kalangan kaum Ahlul Sunnah.

Disebabkan oleh karakter kandungan-kandungannya, hadith -hadith ini telah mempengarui hampir setiap cabang ilmu dalam Syiah mahupun kehidupan seharian umat. Fiqh Syiah mendasarkan dirinya langsung pada himpunan hadith ini di samping al-Quran Suci. Teologi Syiah tidak akan dapat dimengerti tanpa mengetahui hadith-hadith ini. Ulasan-ulasan Syiah tentang al-Quran banyak tertumpu pada hadith-hadith itu. Begitu juga ilmu-ilmu kealaman seperti sejarah kealaman atau kimia berkembang dari hadith-hadith itu. Hadith-hadith ini telah menjadi sumber renungan tentang tema-tema metafizikal tertinggi selama berabad-abad. Dan beberapa madzhab metafizikal dan falsafah dalam Islam bersumberkan terutamanya dari hadith-hadith ini. Falsafah keislaman Shadruddin Syirazi (Mulla Shadra) sesungguhnya tidak akan dapat dimengeri tanpa merujuk kepada hadith-hadith Syiah. Salah satu karya terbesar metafizikal Shadruddin adalah ulasannya yang belum selesai tentang sebahagian dari empat hadith pokok terpenting Syiah iaitu al-Kafi oleh al-Kulaini.

Didalam himpunan hadith Syiah terdapat karya-karya tertentu yang perlu dipaparkan secara terpisah. Yang pertama adalah Nahjul Balaghah karya Imam Ali bin Abi Talib yang dihimpun dan disusun oleh ulama Syiah pada abad ke-4H/10M iaitu Sayyid Syarif al-Radhi. Mengingat pentingnya karya ini dalam Syiah mahupun bagi para pencinta bahasa Arab, maka amat menghairankan betapa sedikit sekali perhatian telah diberikan kepadanya. Banyak penulis kenamaan dalam bahasa Arab, seperti Taha Husain dan Kurd Ali menyatakan dalam autobiografi-autobiografi mereka bahwa mereka telah menyempurnakan gaya mereka dalam menulis Arab melalui kajian terhadap Nahjul Balaghah, sementara generasi demi generasi para pemikir Syiah telah merenungkan dan mengulas maknanya. Lagi pula, doa-doa dan ungkapan-ungkapan lebih pendek dari karya ini telah menyebar luas di kalangan umat dan telah masuk ke dalam kepustakaan klasik dan rakyat, bukan saja dalam bahasa Arab, tetapi juga Persia dan melalui pengaruh Persia beberapa bahasa masyarakat Islam yang lainnya seperti Urdu. Selain memuat nasihat rohaniah, ungkapan-ungkapan moral dan petunjuk-petunjuk politik, Nahjul Balaghah juga mengandung beberapa risalah luar biasa mengenai metafizika, khususnya mengenai masalah Tauhid. Ia memiliki metodologi pemaparan dan kosakata teknis tersendiri yang membedakannya dari berbagai madzhab-Islami metafizika.

Dalam jangka waktu yang lama, para sarjana Barat menolak untuk menerima kesahihannya sebagai karya Ali bin Abi Talib, dan menisbahkannya kepada Sayyid Syarif al-Radhi, sungguhpun gaya karya al-Radhi sendiri sangat berbeda dengan gaya Nahjul Balaghah. Namun demikian sejauh menyangkut sudut pandangan Syiah, kedudukan Nahjul Balaghah dan penulisnya dapat dijelaskan dengan sangat baik melalui suatu percakapan yang terjadi delapan belas atau sembilan belas tahun yang silam antara Allamah Thabatabai dan Henry Cobin ,pernah berkata kepada Allamah Thabatabai selama diskusi-diskusi harian mereka di Teheran.”Sarjana-sarjana Barat menyatakan bahwa Ali bukanlah penulis Nahjul Balaghah. Bagaimana pandangan anda, dan siapakah kiranya menurut anda penulis karya ini?” Allamah Thabathabai mengangkat kepalanya dan menjawab dengan lemah lembut dan tenang sebagaimana biasa,”Bagi kami siapa pun yang menulis Nahjul Balaghah, dialah Ali, meskipun dia hidup seabad yang silam.”

Karya penting kedua dalam himpunan hadith Syiah adalah al-Sahifah al-Sajadiyyah karya Imam Keempat Ali Zainal Abidin, yang digelar al-Sajjad. Sebagai saksi tragedi Karbala yang telah meninggalkan pada jiwanya suatu kesan yang tidak terhapuskan. Imam keempat ini menuangkan kehidupan rohaniahnya dalam suatu simfoni doa-doa indah yang telah menyebabkan Sahifah disebut “Mazmur Ahlul Bayt Rasulullah”. Doa-doa ini membentuk suatu bahagian dari kehidupan keagamaan seharian bukan sahaja kaum Syiah tetapi juga kaum Ahlul Sunnah, yang mendapati doa-doa itu dalam banyak buku pedoman doa termasyhur di kalangan Ahlul Sunnah.

Yang juga penting dalam kehidupan hadith Syiah adalah hadith-hadith Imam kelima, keenam, dan ketujuh. Dari merekalah sejumlah terbesar hadith telah dicatat. Imam-imam ini hidup pada akhir Dinasti Umayyah dan awal Dinasti Abbasiyyah.Pada masa-masa ini, akibat perubahan-perubahan dalam kekhalifahan, kuasa pusat menjadi lemah, sehingga para Imam itu dapat berbicara lebih terbuka, dan juga mendidik lebih banyak murid. Jumlah murid. sama ada Syiah ataupun Sunni, yang dididik oleh Imam keenam, Ja’far al-Sadiq, diperkirakan seramai empat ribu orang. Beliau meninggalkan sejumlah besar hadith yang berkisar dari masalah hukum hinggalah ilmu-ilmu batiniah.

Hadith-hadith Rasulullah dan para Imam tentu saja merupakan suatu sumber tetap renungan dan perbahasan oleh ulama-ulama Syiah di sepanjang masa. Namun khususnya dalam jangka masa berikut dari sejarah Syiah yang bermula dengan Sayyid Haidar Amuli , ulama besar pada masa Safawiyah seperti Mir Damad dan Mulla Shadra hingga kini, hadith-hadith ini telah bertindak sebagai sumber aktual bagi metafizika dan filsafat mahupun ilmu-ilmu hukum dan al-Quran. Ulasan-ulasan Mulla Shadra, Qadhi Said al-Qummi dan banyak lagi ulasan atau himpunan-himpunan hadith Syiah ini merupakan di antara karya-karya besar dalam pemikiran Islam. Akhirnya, falsafah dan teosofi keislaman benar-benar tidak akan dapat dimengerti tenpa merujuk kepada hadith-hadith tersebut+

(Dipetik dari: S.H. Nasr untuk pengantar buku “A Shi’ite Anthologi” karya Allamah M.H. Thathabatai terbitan Ansariyan Publication, Qum, 1982; Islam Syiah, PT Pustaka Utama Grafiti, Jakarta,Lampiran V).

sumber:
www.abna.ir

  • Print

    Send to a friend

    Comment (0)