• Black
  • perak
  • Green
  • Blue
  • merah
  • Orange
  • Violet
  • Golden
  • Nombre de visites :
  • 126
  • 17/3/2017
  • Date :

Sejenak Bersama Al-Quran: Pentingnya Belajar Agama

"Tidak sepatutnya bagi Mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya." (QS. at-Taubah: 122)

sejenak bersama al-quran: pentingnya belajar agama

Kata Din atau agama dalam ayat ini berarti kumpulan undang-undang ilahi dan peraturan lahiriah dan batiniah Islam. Sementara hanya Islam yang menjadi satu-satunya agama yang diterima oleh Allah Swt. "Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam..."( QS. Ali Imran: 19) Dengan arti pasrah kepada Allah.

Tafaqquh fi ad-Din atau belajar agama berarti upaya untuk mengenal lebih dalam tentang agama, akidah dan hukum Islam.

Belajar agama terkadang dilakukan untuk dunia, jabatan, suka belajar, hiburan dan agar tidak tertinggal dari yang lain. Tapi terkadang orang belajar agama dengan niat hanya untuk agama, Allah, surga, menyelamatkan umat dan lain-lain. Tentu saja belajar agama dengan cara yang kedua lebih bernilai karena dapat mengingatkan orang lain dan mengajak mereka kepada Allah. (untuk memberi peringatan kepada kaumnya)

Harus ada dari setiap daerah untuk belajar di pusat-pusat keagamaan sehingga ada di setiap tempat sesuai yang dibutuhkan. Seorang cendekiawan yang tidak berpindah tempat tidak akan pernah menjadi seorang ulama yang sempurna. Mengenai seseorang yang tinggal di rumahnya, Imam bertanya, "Lalu bagaimana ia memperdalam agama?"( Tafsir Kanz ad-Daqaiq). 

Fiqih sedemikian pentingnya sehingga ketika Nabi Muhammad Saw akan melepas Imam Ali as ke Yaman, beliau memerintahkannya untuk mengajarkan fiqih kepada masyarakat di sana. "Faqqih Hum fi ad-Din"(Mustadrak al-Wasail, hadis 36369). Nabi Saw kemudian mendoakan Imam Ali as, "Allahumma Faqqih Hu fi ad-Din. (Bihar al-Anwar, jilid 66, hal 92). " Padahal Imam Ali as merupakan yang paling faqih dari masyarakat, setelah Nabi Saw.

Imam Ali as sendiri menasihati anaknya, "Belajarlah agama! Sesungguhnya Fuqaha adalah pewaris para nabi."( Bihar al-Anwar, jilid 1, hal 216). Imam Husein as di malam Asyura memuji Allah dengan ungkapannya, "Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kami sebagai faqih."( Mausu'ah Kalimat al-Imam). 

kesimpulan

Belajar agama dan mengajarkannya kepada masyarakat hukumnya wajib kifa'i dan tujuan dari belajar adalah untuk mengingatkan masyarakat, membuat mereka sadar, membantu mereka keluar dari kelalaian dan mengajak mereka untuk menyikapi segala masalah yang terjadi. Dengan demikian, para pelajar agama membutuhkan dua bentuk hijrah; pertama menuju tempat belajar dan kedua dari sana menuju ke daerah-daerah. Itulah mengapa tetap tinggal di tempat belajar agama tidak diperbolehkan.

Ada yang bertanya dari Imam Shadiq as, "Apa kewajiban masyarakat bila terjadi sesuatu kepada Imam?" Imam Shadiq as kemudian membacakan ayat 122 dari surat at-Taubah dan berkata, "Masyarakat dari daerah dan etnis mana saja harus bergerak untuk mengetahui Imam-nya."( Tafsir Nur at-Tsaqalain). 

Sumber:
Mohsen Qaraati, Daghayeghi ba Quran, Tehran, Markaz Farhanggi Darsha-i az Quran, 1388 Hs, cet 1.
www.indonesian.irib.ir

  • Print

    Send to a friend

    Comment (0)